Dari 11 Pilkada yang digelar di Papua pada 2017, pemerintah memberi perhatian ke lima daerah yakni Tolikara, Puncak Jaya, Intan Jaya, Jayapura, dan Yapen.
Pada Rabu (11/10) petang, keributan terjadi di komplek Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta. Massa salah satu pendukung calon dalam Pilkada 2017 di Tolikara menuntut Mendagri membatalkan putusan Mahkamah Konstitusi dan tak melantik pasangan bupati-wakil bupati di wilayah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan kontestasi politik yang bermasalah di Papua merupakan akar masalah penyerangan kantor Kemendagri oleh oknum pendukung calon pasangan kepala daerah Kabupaten Tolikara.
Menurut Tito salah satu akar masalah yang terjadi di Papua menyangkut dengan sistem pemilihan. Pria yang pernah menjabat Kapolda Papua itu mengatakan pemerintah perlu mengevaluasi sistem pemilu di Papua, terutama di wilayah pegunungan.
“Ke depan perlu kita kaji bagaimana sistem pemilihan di Papua, terutama daerah gunung. (Apakah) sistem noken representatif, apakah mungkin ini efektif,” ujarnya.
Tito Karnavian. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi) |
Selain meminta evaluasi sistem pemilu, Tito meminta Kapolda Papua saat ini Irjen Boy Rafli Amar dan Kapolda Papua Barat Brigjen Rudolf Ridja bekerjasama dengan Panglima Kodam TNI di wilayah masing-masing, serta seluruh pemangku pentingan untuk mengantisipasi risiko masalah keamanan di sana.
Tito juga mengimbau seluruh peserta pemilu untuk tidak merayakan kemenangannya secara berlebihan, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang berujung konflik.
“Yang menang tolong rangkul segera yang kalah. Yang kalah juga jangan berbuat semaunya, harus legowo,” ujarnya.
Terkait perusakan di kantor Kemendagri, Tito menegaskan itu adalah tindak pidana dan polisi bakal memprosesnya.
“Ada yang terbukti, proses hukum. Tidak boleh [menyampaikan aspirasi] dengan cara kekerasan, meksipun mungkin mereka, saya paham, barisan merah putih ini menyuarakan ketidakpuasan karena calon mereka dikalahkan di MK,” ujar Tito.
Lihat juga:Kronologi Penyerangan Kantor Kemendagri |
Sehari sebelum perusakan di kantor Kemendagri, Kapolda Papua Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya telah memetakan wilayah dan tokoh-tokoh yang berpotensi menimbulkan konflik di tengah masyarakat jelang Pilkada Papua 2018.
Dalam keterangan yang disampaikan di sela-sela Apel Kasatwil 2017 di Akademi Kepolisian di Semarang tersebut, Boy enggan menyebut sosok-sosok penyulut konflik yang masuk dalam pantauan itu. Boy pun menyatakan polisi mengambil langkah antisipasi dengan mengedepankan komunikasi dan dialog bersama sejumlah tokoh masyarakat, adat, agama, dan partai politik.
Boy meyakini, cara itu dapat meminimalisasi mobilisasi massa dalam setiap tahapan Pilkada meski pihaknya menegaskan tetap mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang memantik konflik.
Terkait gangguan keamanan dan ketertiban imbas dari konstestasi pemilihan umum, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan perlu pendidikan kader agar siap kalah.
Untuk itu, menurut Titi, setiap partai politik memiliku peran penting dalam menentukan kualitas pasangan calon dalam pemilihan umum kepala daerah baik di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi.
Selain mempersiapkan diri untuk memenangkan pilkada, partai politik juga seharusnya turut meredam emosi kader pasangan calon beserta para pendukungnya untuk menerima kekalahan.
"Ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab dan peran partai politik untuk mendewasakan masyarakat dalam berdemokrasi. Jangan sampai parpol membiarkan terjadinya provokasi, apalagi penggunaan kekerasan dalam pilkada," kata Titi seperti dikutip dari Antara.
"Saya yakin para elite ikut berkontribusi dalam memanaskan suasana. Kalau elitenya punya jiwa besar dengan menghormati proses pilkada dan segala upaya hukumnya, maka kejadian seperti pilkada Tolikara itu tidak perlu terjadi," kata Titi.
Tito Karnavian. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)