Anies-Sandi Jelaskan Beda Rumah Susun dan Rumah Lapis

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Selasa, 07/11/2017 08:33 WIB
Anies-Sandi Jelaskan Beda Rumah Susun dan Rumah Lapis Gubernur DKI dan Wakilnya, Anies Baswedan-Sandiaga Uno ingin warga mendapat rumah lapis yang ukurannya sama dengan rumah mereka sebelumnya. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut tidak ada perbedaan signifikan antara rumah susun dengan rumah lapis. Hal itu merespons pertanyaan publik soal rumah lapis, yakni konsep hunian yang ia sebutkan pertama kali di media pada akhir pekan lalu.

"Rumah susun. Kalau lihat izin-izin tulisannya apa? Lapis. Bahasa teknisnya lapis," kata Anies menjawab pertanyaan tentang pengertian rumah lapis, Senin (6/11) di Balai Kota DKI Jakarta.

Rumah lapis, menurut Anies, juga tidak terlalu berbeda dengan kampung deret. Meski demikian dia menginginkan warga mendapat unit rumah lapis dengan ukuran yang sama seperti rumah mereka sebelumnya.



Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menambahkan, perbedaan mendasar antara rumah susun dan rumah lapis adalah intensitas tingkatannya. Rumah lapis berlantai kurang dari delapan.

"(Rumah lapis) intensitasnya rendah. Kalau rumah susun bisa sampai lantai 16," ujar Sandi. Rumah lapis ini pun disebut Sandi mengedepankan prinsip konsolidasi tanah atau land consolidation.

Konsolidasi tanah bertujuan untuk menata kembali penguasaan dan penggunaan tanah. Program ini juga mendorong pemerintah untuk mengadakan tanah demi kepentingan pembangunan, meningkatkan kualitas lingkungan.

Sandi menambahkan, ada kemungkinan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara akan dibangun rumah lapis yang menerapkan konsep konsolidasi tanah.

Ia mengaku belum bisa membeberkan lebih lanjut rencana teknis pembangunan rumah lapis di kawasan itu karena masih tahap perencanaan.

"Kebijakan untuk menata mereka di tempat lokasinya, dengan bangunan yang tidak terlalu tinggi intensitasnya dan jaraknya menempel dengan jarak tempat tinggal mereka selama ini," kata Sandi.


Pemperintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sedang membangun shelter atau rumah penampungan sementara di Kampung Akuarium, tepat di kawasan lahan yang pernah digusur pada April 2016.

Shelter yang dimaksud bertujuan untuk meningkatkan kondisi hidup warga yang masih bertahan di kawasan tersebut.

Setelah penggusuran 16 April lalu, sejumlah warga Kampung Akuarium memang masih ada yang bertahan di kawasan itu. Mereka tinggal di rumah-rumah bedeng yang dibangun di atas puing-puing bangunan sisa penggusuran.

CNNIndonesia.com saat melakukan reportase di Kampung Akuarium, Mei 2017 lalu mencatat setidaknya terdapat 130 bangunan yang didirikan warga Akuarium.


Anies sendiri sempat menyatakan kondisi kesehatan warga yang bertahan di Kampung Akuarium tidak baik. Dia menyebutkan dalam waktu 1,5 tahun belakangan sudah terdapat 20 orang meninggal karena kondisi hunian tidak sehat di kawasan tersebut.

[Gambas:Video CNN] (wis/djm)