Mandat tersebut tertuang dalam surat nomor 12-0036/B/DPP-GERINDRA/Pilkada/2017. Dalam surat itu tertulis, nama La Nyalla sebagai Cagub Jatim sedang diproses oleh DPP Partai Gerindra.
Mantan Ketua PSSI itu diberi syarat oleh Gerindra untuk mencari mitra koalisi, dan menyiapkan kelengkapan pemenangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Surat tersebut adalah tugas yang diperuntukkan secara pribadi kepada La Nyalla, dan tidak melibatkan pengurus DPD Partai Gerindra Jatim.
Gerindra yang memiliki 13 kursi di DPRD Jatim, tidak bisa mengusung calon sendiri pada Pilgub Jatim. Gerindra harus berkoalisi dengan partai lain.
Partai paling terbuka untuk berkoalisi ialah Partai Amanat Nasional (PAN) dengan tujuh kursi. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan enam kursi juga terbuka untuk digaet dalam Pilgub Jawa Timur.
La Nyalla mengaku siap menjalankan tugas dan memenuhi syarat yang diberikan Gerindra Prabowo Subianto, untuk menggaet mitra koalisi.
Lihat juga:Melihat Kursi RI 1 di Pilkada Tanah Jawa |
"Kami intensifkan komunikasi dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Sejauh ini kita berkomunikasi dengan cukup baik," tutur La Nyalla.
Dia mengatakan, pembicaraannya dengan Zulkifli Hasan bahkan tidak hanya seputar politik, namun juga pembangunan Jatim ke depan seperti bagaimana Jatim ke depan harus lebih berkeadilan sosial, masyarakatnya lebih sejahtera dan ketimpangan bisa terus dikurangi.
"Insya Allah PAN akan ikut koalisi kami, minta doanya saja," ujar La Nyalla.
Sebelumnya PAN sempat mendekati Bupati Trenggalek, Emil Elistyanto Dardak yang akan diusung sebagai Cagub Jatim, namun suami artis Arumi Bachsin itu memilih menjadi calon wakil Khofifah Indar Parawansah.
Saat ini baru dua pasangan cagub Jatim yang mengemuka, yakni Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak (sementara ini Demokrat, Golkar dan Hanura) dan Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas (PKB-PDIP).
Lihat juga:PKS Dukung Gus Ipul-Anas di Pilkada Jatim |