Setya Novanto mengajukan diri menjadi justice collaborator KPK karena ingin membantu KPK mengungkap nama-nama penerima uang hasil praktik rasuah proyek pengadaan E-KTP.
"Pengalihan perhatian. Saya tahu akalnya dan saya sudah tahu apa yang akan dia (KPK) lakukan," ucap Fahri di sela acara diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Kamis (11/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahri heran mengapa KPK tidak menetapkan mereka sebagai tersangka. Padahal, lanjut Fahri, mereka sudah mengakui menerima uang hasil dugaan korupsi E-KTP.
Menurut Fahri, Setnov tengah berada dalam posisi yang terjepit. Menjadi justice collaborator merupakan pilihan rasional agar mendapat keringanan hukuman.
Fahri sendiri mengaku telah menyarankan Setnov untuk membela diri agar tidak terjerembab ke dalam hukuman yang berat.
"Silakan saja dihadapi untuk membela diri," kata Fahri.
Menjadi justice collaborator, lanjut Fahri, dapat mengurangi hukuman yang mengancam Setnov.
Itu terbukti dari terpidana kasus korupsi proyek pembangunan Wisma Atlet Hambalang, Nazaruddin. Fahri menilai Nazaruddin telah mendapat keringanan hukuman karena membantu KPK sebagai justice collaborator.
"Nazarudin itu punya 162 kasus yang merugikan negara triliunan, tapi sekarang Nazaruddin sudah asimilasi, sudah bebas, sudah keluar masuk, tinggal lapor," kata Fahri.