Pertemuan itu dilakukan di kediaman Setnov di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, dan DPR pada medio 2011.
Hal ini diungkapkan Charles saat menjadi saksi dalam sidang korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setnov di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Biayanya sekitar US$2,5 sampai US$3 per chip,” ujar Charles.
“Benar terdakwa menanyakan bisa enggak (penyediaan chip) dari China?” tanya hakim mengonfirmasi.
“Iya betul. Saya enggak tahu kenapa dia tanya, tapi memang kalau dari China lebih murah,” jawab Charles.
Charles menceritakan, awalnya mengetahui proyek e-KTP dari Johannes Marliem selaku penyedia produk Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merk L1 dari Amerika.
Sebagai Country Manager Hewlett Packard (HP) Enterprise Service saat itu, Charles diberitahu bahwa L1 pernah bekerja sama dengan HP untuk membuat produk serupa kartu identitas di Amerika.
“Dia bilang L1 pernah punya kerja sama dengan HP untuk cover proyek kartu identitas. Kemudian ada proyek nasional ini (e-KTP),” terangnya.
Charles kemudian bertemu kembali dengan Setnov di DPR atas ajakan Made. Namun menurutnya, pertemuan saat itu hanya diisi dengan kegiatan makan siang bersama sejumlah anggota DPR lainnya.
“Ya, saya terima uang itu untuk keperluan pribadi,” ucap Charles.
Setnov sebelumnya didakwa menerima uang sebesar US$7,3 juta dan jam tangan merk Richard Mille. Ia juga disebut telah mengatur proyek e-KTP bersama sejumlah pihak termasuk Andi. (pmg/djm)