Setnov Tak Keberatan Golkar Koalisi dengan PDIP di 2019

Feri Agus, CNN Indonesia | Kamis, 25/01/2018 17:19 WIB
Setnov Tak Keberatan Golkar Koalisi dengan PDIP di 2019 Bekas Ketua Umum Partai Golkar sekaligus terdakwa korupsi proyek e-KTP Setya Novanto, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (25/1). Ia menyebut, Golkar bisa berkoalisi dengan PDIP untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019. (Foto: CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto tak keberatan jika Golkar terus berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan hingga pemilihan presiden 2019. 

Menurutnya, sejak awal Golkar berkomitmen mendukung Joko Widodo yang juga kader PDIP, untuk maju di Pilpres.

"Ya koalisi kan tentu bisa memberikan kontribusi besar yang lebih baik. Enggak masalah," kata Setnov di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jakarta, Kamis (25/1).


Terbukanya opsi Golkar untuk berkoalisi dengan PDIP pada Pilpres 2019 itu tak lepas dari komitmen dukungan Golkar kepada Jokowi.

Hal itu, kata Setnov, didukung oleh sejumlah elite 'Beringin', termasuk Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical.

"Pak ARB selalu memberikan saran supaya terus kita (Golkar) bisa bersama-sama dengan pemerintah, khususnya Pak Jokowi," ujarnya.

Setnov pun berharap sejumlah calon kepala daerah yang didukung Golkar bisa menang dalam Pilkada serentak 2018. Selain itu, dia meminta partai yang besar di era Orde Baru terus solid, mulai dari tingkat DPP, DPD I, DPD II hingga ke desa, dalam menghadapi Pilpres 2019.


"Pertama, Pilkada harus dimenangkan. Yang kedua tentu menghadapi pemilihan presiden dan juga pemilihan anggota DPR yang kita harapkan bisa tambah baik," kata dia.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 7-14 Januari mengungkapkan, PDIP dan Golkar menjadi dua partai peraih suara terbanyak dalam pemilihan umum legislatif jika pesta demokrasi itu digelar saat ini.

PDIP berada di posisi pertama dengan dukungan sebesar 22,2 persen, dan Golkar menyusul di peringkat dua dengan 15,5 persen.

[Gambas:Video CNN]

(arh)