Puluhan Masyarakat Tanda Tangan Petisi Tolak Aksi Intoleransi

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Minggu, 18/02/2018 10:17 WIB
Puluhan Masyarakat Tanda Tangan Petisi Tolak Aksi Intoleransi Puluhan orang menggelar aksi menolak intoleransi melalui pengumpulan tanda tangan petisi. (dok. CNNIndonesia/ Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan masyarakat yang tergabung dalam sejumlah organisasi melakukan penandatanganan petisi tolak aksi intoleransi di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat, Minggu (18/2) pagi.

Ketua Panitia Aksi Amy mengatakan aksi ini merupakan bentuk keprihatinan atas aksi intoleransi yang belakangan marak terjadi.

"Ini kami spontanitas dari teman-teman tolak radikalisme karena akhir-akhir ini ada gerakan yang melenceng dari ideologi Pancasila," ujar Amy saat ditemui di lokasi.


Sejumlah organisasi yang melakukan aksi di antaranya berasal dari Barisan Jaga NKRI, Laskar Nusantara, Srikandi Nusantara, dan Solidaritas Merah Putih.

Amy menuturkan aksi ini awalnya adalah tuntutan untuk segera menangkap Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang dikabarkan akan segera pulang ke Indonesia pada 21 Februari mendatang. Namun aksi itu urung dilakukan terkait alasan keamanan.

Puluhan Masyarakat Tanda Tangan Petisi Tolak Aksi IntoleransiFoto: CNNIndonesia/Priska Sari Pratiwi

"Kami melihat situasi dan tidak mau dibilang menggelindingkan 'bola panas'. Kami tidak mau memulai karena kami cinta damai," katanya.

Sementara itu, anggota Laskar Nusantara Yeni meyakini ada aktor intelektual di balik sejumlah aksi intoleransi yang terjadi dua bulan terakhir. Ia meminta pihak kepolisian segera mengungkap aktor tersebut agar peristiwa tersebut tak terulang.

"Bangsa kita sedang dikoyak-koyak, baik ulama dengan umat, umat dengan umat, pemerintah dengan umat. Kami hanya ingin pemerintah dan kepolisian segera mengungkap di balik ini," ucapnya.

Belakangan terjadi sejumlah kasus intoleransi secara berurutan yakni penyerangan gereja di Sleman Yogyakarta dan persekusi pada seorang biksu di Tangerang. Sebelumnya juga terjadi penyerangan pada dua ustaz oleh orang dengan gangguan jiwa di Jawa Barat. (evn)