PDIP Klaim Megawati Rombak Tradisi Ketum jadi Capres

RZR, CNN Indonesia | Minggu, 25/02/2018 02:32 WIB
PDIP Klaim Megawati Rombak Tradisi Ketum jadi Capres Foto: Screenshot via Twitter/@PDI_Perjuangan
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah menilai Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah merombak tradisi politik yang mengistimewakan posisi Capres atau Cawapres dari ketua umum parpol.

"Ibu Megawati merombak tradisi itu, menjadi ketua umum partai tidak otomatis bisa langsung menjadi calon presiden atau cawapres," kata Basarah di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Sabtu (24/2).

Basarah menilai Megawati telah memberikan contoh yang baik dalam berpolitik. Hal ini harus diperhatikan agar orang-orang potensial di segala bidang bisa menjadi presiden/wakil presiden tanpa harus menjabat sebagai ketua umum parpol terlebih dulu.

Seharusnya peran dan kewenangan ketua umum hanya sebagai pemutus dan penentu kebijakan penting, seperti penetapan capres atau cawapres. "Ketum partai menjadi queen maker seperti Ibu Mega. Coba bayangkan ketum partai lain bisa seperti Bu Mega sebagai queen maker, maka lahir pimpinan bangsa," ujar Basarah.


Basarah mengatakan bahwa partainya akan menjaring secara terbuka semua sosok potensial untuk didukung sebagai cawapres pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019. Semua tokoh dari berbagai latar belakang, baik kader parpol maupun kalangan profesional turut dipertimbangkan jika memiliki kapasitas, satu visi dan dapat membantu suara elektoral Jokowi di Pilpres 2019.

"Semuanya kita pertimbangkan, tak cuma dari ketum parpol aja, tapi bisa juga itu dari politisi atau dari profesional yang penting bisa satu visi dan mendongkrak suara elektoral Jokowi nanti," ujar dia.

Megawati menggunakan hak prerogatifnya menunjuk Joko Widodo sebagai calon presiden RI 2019-2024. Pengumuman pada Jumat (23/2) itu mendapat sembutan meriah dari ratusan kader yang menghadiri Rakernas PDIP.

Keputusan PDIP mencalonkan Jokowi ini diumumkan secara resmi dalam rapat kerja nasional. Megawati dalam rapat itu memberikan pidato di hadapan para kader secara tertutup. Pembahasan materi rapat juga dilakukan tertutup. Namun sejumlah elite PDIP menulis hasil Rakernas PDIP itu di akun media sosialnya.

PDIP adalah partai kedelapan yang mendukung Jokowi sebagai calon presiden. NasDem menjadi partai pertama yang menyatakan dukungannya pada 19 Maret tahun lalu dan ditegaskan kembali oleh Surya Paloh, beberapa bulan kemudian.

Dukungan lain terhadap Jokowi datang dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Hanura, Perindo, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).


(ded)