Bawaslu-Polisi Awasi Soal Suap Politik Hingga Kebencian

CTR, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 04:42 WIB
Bawaslu-Polisi Awasi Soal Suap Politik Hingga Kebencian Bawaslu mewanti-wanti sejumlah isu kampanye hitam yang bakal bergulir jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018 dan pilpres 2019. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) mewanti-wanti sejumlah isu yang bakal bergulir jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018 dan pemilihan presiden (pilpres) 2019.

Komisioner Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo mengatakan ada dua isu utama yang rawan untuk dipersoalkan.

"Politik uang, black campaign yang termasuknya ada ujaran kebencian," kata Ratna saat ditemui kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Selasa (27/2).



Ratna mengatakan ujaran kebencian diperhatikan pihaknya, terutama yang melalui media sosial jelang proses Pilkada 2018, serta Pemilu dan Pilpres 2019.

"Kami kerjasama dengan beberapa pihak platform kami buat Memorandum of Agreement (MOA) karena media yang digunakan tak bisa kita masuk secara mendalam," katanya.

Soal ujaran kebencian itu diungkap Ratna menanggapi barisan The Family Muslim Cyber Army (MCA) yang baru-baru ini ditangkap Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di empat provinsi berbeda secara serentak.

Mereka menggunakan platform aplikasi pesan Whatsapp untuk menyebarkan isu provokatif yang bernuansa ujaran kebencian.

Dalam kesempatan sama, Kasubnit V Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Kompol Nur Said memastikan bakal menindaklanjuti setiap kasus yang berseberangan dengan Undang Undang nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada.

"Tapi harus dilaporkan dulu ke Pengawas Pemilu baru pengawas pemilu menindaklanjuti ke kepolisian. Kami kepolisian akan meneruskan ke kejaksaan dan sebagainya," katanya.


Sebelumnya, pada awal pekan ini Polisi menangkap empat anggota kelompok Muslim Cyber Army yang tergabung dalam grup di aplikasi tukar pesan Whatsapp 'The Family MCA' di empat provinsi berbeda secara serentak pada Senin (26/2).

Direktur Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Dittipidsiber Bareskrim) Polri, Brigadir Jenderal Fadil Imran, mengatakan pelaku diduga kerap menyebarkan isu provokatif yang bernuansa ujaran kebencian di media sosial.

Ia mengatakan isu-isu yang disebar itu terkait kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), penculikan Ulama, dan pencemaran nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu. Para pelaku juga diduga menyebarkan virus yang dapat merusak perangkat elektronik pihak penerima. (kid/kid)