ICMI Sebut Demokrasi Terancam Isu SARA dan Kesenjangan

NDY, CNN Indonesia | Sabtu, 17/03/2018 02:27 WIB
ICMI Sebut Demokrasi Terancam Isu SARA dan Kesenjangan ICMI menyebut kualitas demokrasi di Indonesia alami penurunan. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menyampaikan bahwa saat ini sedang terjadi penurunan kualitas demokrasi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah orang yang antidemokrasi.

"Sedang terjadi demoralisasi demokrasi di dunia saat ini. Ada ancaman terhadap sistem demokrasi," ujar Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie, saat konferensi pers di Kantor Operasional ICMI, Jum'at (16/3).

Jimly menyebutkan tiga gejala umum yang menunjukkan terjadinya penurunan demokrasi pada suatu negara. Pertama ketidaksesuaian politik demokrasi dengan cita-cita kesejahteraan rakyat.


Kedua, muncul gelombang kekuatan ekonomi bisnis yang mengendalikan kekuasaan. Ketiga, maraknya konflik yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

"Aktor-aktor yang mengusung demokrasi itu tidak menghayati substansi demokrasi tetapi hanya memahami prosedur menang kalah. Inilah yang mengakibatkan demokrasi terancam dan anti demokrasi semakin mencuat," kata Jimly.

Untuk itu, Jimly menghimbau agar para pemimpin yang bekerja atas dasar sistem demokrasi memperhatikan gejala-gejala tersebut.

"Siapa pun yang menang dalam pemilihan nanti harus meyakini demokrasi itu metode, bukan sekedar menang kalah. Dia harus jadi pemimpin bagi semua bukan cuma golongan yang memilihnya," kata Jimly.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu memaparkan Indonesia adalah negara penganut demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan India.

Jimly menjelaskan demokrasi masih dianggap sebagai sistem paling ideal oleh 90 persen negara di dunia karena sistem musyawarah mufakatnya, seperti yang termaktub di sila keempat Pancasila.

Ia berharap para pemimpin agar lebih memerhatikan perubahan kualitas demokrasi yang sedang melanda negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

"Walau Indonesia secara kuantitas nomor 3, tetapi secara kualitas kita masih rendah dibanding negara lainnya," demikian Jimly. (DAL)