Puluhan Tahun Mandi 'Air Limbah', Sandiaga Berpaling ke PAM

Mesha mediani, CNN Indonesia | Rabu, 21/03/2018 14:49 WIB
Puluhan Tahun Mandi 'Air Limbah', Sandiaga Berpaling ke PAM Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dan istri, Nur Asia, memotong pipa air tanah di kediamannya, di kawasan Pulombangkeng, Jakarta Selatan, Rabu (21/3). (Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur Sandiaga Uno beralih menggunakan air PAM di rumahnya setelah bertahun-tahun menggunakan air tanah. Sandi memotong sendiri pipa air yang menghubungkan pompa air di rumahnya.

Sandi mengatakan, salah satu alasan ia beralih ke air PAM adalah kandungan air tanah di rumahnya yang selama ini ternyata mengandung bakteri Escherichia coli atau ecoli.
Sandi memang meminta pihak PAM Jaya memeriksa keadaan air tanah yang dipakai di kediamannya selama ini.

"Kemudian diperiksa, katanya septic tank-nya bocor ternyata. Waduh, kaget saya," kata Sandi.


Septic tank yang bocor itu, kata dia, tentu membuat bakteri ecoli. Bahkan saat diukur, kandungan bakteri itu dalam air tanah yang digunakan di kediamannya mencapai kurang lebih 10 ribu per 100 cc air.

"Katanya standar E coli di air harusnya cuma 3.000-an," ujar Sandi.

Diketahui, bakteri Ecoli biasa ditemukan dalam usus besar manusia dan hewan. Kebanyakan tidak berbahaya atau hanya menyebabkan diare ringan.

Sandi mengaku sebelumnya dia yakin dengan kualitas air tanah yang dipakai di rumahnya yang tergolong besar dan mewah serta dilengkapi dengan kolam renang itu.

"Belum lagi yang mandi. Sekarang ajudan saya saja lebih dari 20 orang, mereka mandi semua di sini. Banyak dong yang pakai airnya, air tanah lagi," kata Sandi.

Belajar dari kasus itu, dia mulai mengajak keluarganya untuk beralih ke air PAM. Namun, ia tidak gembor-gembor lebih dulu soal pencemaran septictank dan bakteri tersebut.

"Berangkat dari situ saya kaget juga, tapi saya diam-diam, terus saya bilang sama istri saya, 'non, kita mandi pake air limbah kita sendiri. Ini enggak sehat'," ia menceritakan ajakannya kepada sang istri, Nur Asia. "Kata istri saya, 'pantesan air kita di rumah ini bau'," ujar Sandi.

Setelah memasang pipa PAM, Sandi pun berkomitmen untuk tak lagi memakai air tanah. Bersama istrinya, ia kemudian memotong pipa air tanah yang ada di rumahnya itu.

"Kan kemarin waktu pake air tanah pemakaian air saya katanya nol, pas kemaren dua hari ini sudah buka keran PAM ternyata sampai 34 kubik sehari," kata Sandi. (arh)