Cerita Warga dan Ironi Kampanye Air Anies-Sandi

NDY, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 16:46 WIB
Cerita Warga dan Ironi Kampanye Air Anies-Sandi Anies mengajak warga beralih menjadi pelanggan PAM Jaya. Sementara di sudut-sudut kota, sejumlah pelanggan hampir setiap hari mengeluhkan kualitas air PAM Jaya.. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno punya cara unik dalam mengampanyekan penghentian eksploitasi air tanah. Di hadapan awak media, kemarin, Sandi memotong sendiri pipa penyalur air tanah di rumahnya --yang sebelumnya menjadi sumber utama air konsumsi keluarga.

Terhitung sejak saat itu Sandi berhenti mengonsumsi air tanah. Ia akan bergabung bersama sebagian warga Jakarta lain sebagai pelanggan PAM Jaya.

Hanya belasan kilometer dari kediaman Sandi, di Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara ada Epa Ritani, ibu rumah tangga yang sudah 10 tahun menjadi pelanggan PAM Jaya.


Kepada CNNIndonesia.com, Epa bercerita sengaja memutuskan berlangganan PAM Jaya lantaran membutuhkan air bersih setiap hari. Epa mengatakan di sekitar pemukimannya belum diberlakukan pipanisasi oleh PAM, tetapi warga berinisiatif menyalurkan air dari ruko yang sudah dipasang pipa oleh PAM. 

Bagi Epa, menjadi pelanggan PAM Jaya tak sekadar mendapat pasokan air, tetapi juga menjadi ajang menguji kesabarannya. Sebab sejak berlangganan satu dekade lalu, selama itupula dia harus mengelus dada menyaksikan seretnya kucuran air PAM Jaya di rumahnya. 


"Airnya terlalu kecil," kata Epa saat ditemui di rumahnya hari ini, Rabu (22/3). "Tapi air tidak pernah mati, cuma kecil saja."
Cerita Warga dan Ironi Kampanye Air Anies-SandiEpa Ritani. (CNN Indonesia/Nindya Maharani)

Suatu waktu, Epa mengaku pernah didatangi tim survei dari PAM Jaya.

Ia memanfaatkan kedatangan petugas survei itu untuk mengeluarkan unek-uneknya terhadap air yang mengucur pelit. Tetapi keluhan Epa tak tentu ke mana. Yang didapat justru kebijakan kenaikan tarif air dari PAM Jaya. 

Sejak setengah tahun belakangan, Eva mengatakan harga air naik dari Rp1050 per meter kubik menjadi Rp4000 per meter kubik. Kenaikan drastis itu membuatnya harus merogoh kocek lebih dalam.

"Sekarang dalam sebulan saya bisa habis sampai Rp200 ribu. Dulu, tidak sampai segitu," ungkapnya.


Hal serupa dialami Yudi Irawan, 34 tahun, warga di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dia mengaku sudah menggunakan PAM sejak 2016.

Yudi menuturkan harga PAM mengalami kenaikan sejak tahun 2018. Selain harga yang melonjak, Yudi juga menyebut air yang ia gunakan beraroma kaporit.

"Masih ada bau kaporit dari airnya," ujar Yudi.
Cerita Warga dan Ironi Kampanye Air Anies-SandiYudi Irawan. (CNN Indonesia/Nindya Maharani)

Kaporit adalah bahan kimiawi untuk membersihkan air dari kuman. Meski demikian tetap ada batas toleransi unsur kaporit dalam air. Jumlah yang tidak proporsional dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi air tersebut. 

Yudi tak mengetahui seberapa besar kandungan kaporit yang ada di dalam air PAM Jaya yang ia konsumsi setiap hari.

Lin Endrawati, warga Tomang Barat, Jakarta Barat, yang sudah berlangganan air PAM Jaya sejak tujuh tahun lalu mengeluhkan kecilnya aliran air di rumahnya. Lin bahkan hapal kapan waktu air mengalir kecil, kapan air mengalir normal. 

Kata dia, air mengalir kecil pada pagi hari hampir setiap hari. Air baru mengalir normal saat memasuki pukul 09.00 WIB. 

Cerita Warga dan Ironi Kampanye Air Anies-SandiLin Endrawati. (CNN Indonesia/Nindya Maharani)

Pola aliran seperti itu membuat wanita 48 tahun ini selalu kerepotan. Pasalnya, di pagi hari, para anggota keluarga membutuhkan air untuk mandi dan kegiatan lain sebelum menjalani aktivitas rutin.

Lin, Epa, dan Yudi Irawan hanya segelintir dari ratusan ribu orang yang juga berlangganan PAM Jaya. Selain mereka masih banyak warga yang mengalami persoalan dengan kualitas dan pasokan air dari PAM Jaya.

Minimnya pasokan dan unsur kaporit yang terkandung dalam air PAM Jaya, telah menyusahkan sebagian pelanggannya. Ironisnya, Pemprov DKI Jakarta justru semakin gencar mengajak warga menjadi pelanggan PAM Jaya. 
(wis)