Anies Sebut Akademisi Kalah dari Ulama Soal Bicara Kemiskinan

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Sabtu, 24 Mar 2018 13:19 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut isu kemiskinan dan ketimpangan saat ini lebih banyak diangkat dari perspektif religius. Anies Baswedan menyebut ada tiga juta penduduk Jakarta yang berpendapatan kurang dari satu juta rupiah. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyindir kaum akademisi yang tidak lagi sering mengangkat isu kemiskinan dan ketimpangan.

Saat ini, menurut Anies, golongan yang membicarakan soal kedua topik tersebut di tengah-tengah masyarakat adalah kaum pemimpin agama.

"Ulama agama di berbagai kampung berbicara soal kemiskinan dan ketimpangan. Kita, di universitas, semakin sedikit yang mempermasalahkan (kemiskinan dan ketimpangan) ini," ujar Anies saat menghadiri 7th Southeast Asia Studies Symposium di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI) Kampus UI Depok, Sabtu (24/3).


Anies menyebut kondisi tersebut menjelaskan isu kemiskinan dan ketimpangan saat ini lebih banyak diangkat dari perspektif religius. Padahal dulu isu tersebut dekat dengan kaum akademisi.

"Sekarang, kita tidak melihat isu tersebut dibahas (di kalangan akademisi) sebanyak dulu atau setidaknya persepsi yang ada seperti itu. Banyak dari pelajar yang menjauhkan diri dari isu kemiskinan dan ketimpangan," ujar Anies.

Dalam pidatornya Anies mengklaim tiga juta dari total 10 juta penduduk Jakata hidup dengan pendapatan kurang dari Rp1 juta per bulan. Ia mengatakan nominal itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya transportasi.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta sendiri menyebutkan persentase penduduk miskin di ibu kota pada September 2017 mencapai 3,78 persen atau mencakup 393,13 ribu orang, dengan definisi kemiskinan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Selain menyebut data tiga juta penduduk Jakarta berpendapatan di bawah Rp1 juta, Anies juga menyebut lebih dari 40 persen penduduk Jakarta harus mengeluarkan Rp600 ribu per bulan untuk mendapatkan akses air bersih.

Sementara itu, masih menurut Anies, kelompok yang tinggal di perumahan layak dan apartemen hanya perlu mengeluarkan sekitar Rp120 ribu per bulan untuk mendapatkan akses yang sama.

Anies kemudian menyoroti bahwa orang yang menikmati keuntungan dari pertumbuhan ekonomi malah bisa mendapatkan fasilitas pelayanan publik dengan biaya lebih murah.

Ia lalu mengundang kaum akademisi untuk memberikan perhatian lebih banyak terhadap masalah kemiskinan dan ketimpangan dengan pendekatan yang lebih induktif yang mampu menawarkan solusi.

Anies menegaskan, pengatasan masalah kemiskinan dan ketimpangan di Jakarta bisa menjadi contoh bagi isu yang sama di seluruh Indonesia.

"Jika ketimpangan masih terjadi di Jakarta bagaimana kita bisa memberikan sinyal harapan bahwa Anda akan merasa sejajar di Papua, Sulawesi, dan daerah terpencil," ujarnya.
(vws/vws)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER