Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan Komisi Informasi Pusat (KIP) di Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Jakarta, Rabu (28/3).
"Saldo rekening gotong royong sejak diluncurkan pada 20 Oktober 2015 terkumpul sebanyak Rp22 miliar," ujar Hasto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus untuk kader dan petugas partai, PDIP mewajibkan untuk membayar iuran sebanyak tiga kali dalam setahun.
Penggunaan anggaran, kata dia, juga tidak hanya untuk kepentingan kampanye, tapi 50 persen untuk pendidikan politik dan kaderisasi, 10 persen untuk pemberdayaan perempuan, 20 persen untuk kerakyatan, dan 20 persen manajemen partai.
Pembentukan rekening gotong royong, kata Hasto, merupakan cara PDIP untuk mandiri. Ia yakin dengan tidak mengandalkan bantuan dari pemerintah PDIP bisa menjadi partai yang kuat.
"Jadi program ini kami luncurkan karena kami percaya kami akan berdaulat, kami akan berdiri di atas kaki kami sendiri apabila kami juga berdikari dalam pengelolaan keuangan partai," ujarnya.
Terkait dengan anggaran partai pula, Hasto berharap pemerintah dapat meniru negara lain. Sebab ia berkata bantuan keuangan partai dari pemerintah masih jauh dari proporsional.
Terlebih, agenda keterbukaan informasi dari parpol juga terkait dengan Pemilu tahun 2019.
"Kami ingin bersinergi dengan parpol dalam komitmennya mendukung keterbukaan informasi pada tahun pemilu," ujar Gede.
KIP sebagai lembaga mandiri, kata dia wajib untuk mengakomodir keterbukaan informasi dari semua pihak yang terkait dengan pemerintah, salah satunya penggunaan APBN.
(aal)