Buntut Petaka Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Senin, 09/04/2018 06:24 WIB
Buntut Petaka Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan Ilustrasi minyak tumpah. (REUTERS/Giorgos Moutafis)
Balikpapan, CNN Indonesia -- Bau minyak samar-samar terendus dan menyeruak di dalam rumah ketika Rudi (24) terbangun persis sebelum fajar menyingsing, Sabtu (31/3).

Rudi lantas dikagetkan dengan pemandangan di luar rumahnya seiring matahari terbit di ufuk timur: laut hitam pekat sejauh mata memandang.

Dari rumah kayu apung miliknya, Rudi bisa menebak itu tumpahan minyak milik kilang PT Pertamina di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Kilang itu hanya berkisar satu kilometer dari rumah Rudi di Kampung Baru Tengah.


Pagi itu warga mulai bergunjing menanggapi fenomena muskil yang baru mereka lihat seumur hidupnya. Kebingungan warga berubah menjadi kepanikan ketika di ujung pandang api berkobar dahsyat tak jauh dari bibir pantai sekitar pukul 10.00 WIB.

"Mulanya ada api kecil di sana dan tiba-tiba membesar seperti membentuk pulau (api). Ada dua-tiga titik api saat itu," ujar Rudi sambil menjuruskan telunjuk saat menceritakan kembali kesaksiannya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/4).
Yang Tersisa dari Tragedi Minyak Tumpah di Teluk BalikpapanSebuah kapal mendekati lokasi pertama kali munculnya api di perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (31/3). (ANTARA FOTO/Sheravim)

Warga panik berhamburan keluar rumah tapi tak bisa berbuat banyak. Mereka takut api menyambar ke permukiman. Tumpahan minyak kala itu sudah merembes ke kaki-kaki pancang rumah apung yang menjorok ke laut.

Beruntung, kata Rudi, laut pagi menjelang siang itu tidak sedang pasang. Sehingga angin berembus mengarah ke laut lepas.

Kobaran api membumbung di tengah laut selama hampir dua jam dan menjadi tontonan warga yang ketakutan. Api berangsur mengecil setelah disiram oleh kapal-kapal pengangkut air yang dikerahkan sejumlah pihak saat itu.

Tumpahan minyak yang mengubah Teluk Balikpapan menjadi 'laut hitam' adalah akibat dari patahnya pipa distribusi minyak mentah (crude oil). Pipa tersebut menyalurkan minyak dari Terminal Lawe-Lawe ke ke fasilitas kilang (refineery) milik PT. Pertamina UP RU V.


Pipa baja berdiameter 20 inci dan tebal 12 milimeter itu sudah berusia 20 tahun. Pipa itu ada di kedalaman sekitar 22-26 meter di bawah laut.

Pertamina tak mau disalahkan akibat kejadian itu. Mereka menduga pipa patah karena faktor eksternal --yang hingga kini belum terungkap penyebabnya.

Insiden minyak tumpah, bagaimanapun, bukan semata kerugian untuk Pertamina. Akibat kejadian tersebut, lima nelayan meninggal ketika api menjilat ceceran minyak di Teluk Balikpapan.

Lebih dari itu, selama sepekan terakhir, warga di kawasan Teluk Balikpapan terganggu dengan paparan minyak tumpah yang belum habis mencemari wilayah perairan.

Warga belakangan tak bisa bernapas layak akibat bau minyak yang melekat di udara. Sengatan udara akibat minyak bahkan membuat perih mata warga. Beberapa warga pun sempat mengeluh mual dan pusing akibat bau minyak.
Yang Tersisa dari Tragedi Minyak Tumpah di Teluk BalikpapanSepekan sejak insiden minyak tumpah, perairan Teluk Balikpapan masih tercemar. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)

Herman (34), warga Kampung Baru Tengah lainnya, mengaku merasakan hal itu selama hampir empat hari sejak kejadian minyak tumpah.

"Baunya bikin pusing dan pedas mata, sampai sekarang juga sebenarnya masih kadang-kadang tercium (bau minyak), saya suka pusing juga," kata Herman.

Hasil analisis citra satelit LAPAN, Minggu (1/8), mengestimasi total luasan tumpahan minyak di perairan Teluk Balikpapan mencapai 12,9 ribu hektare, atau lebih dari separuh luas Kota Bekasi (21 ribu ha).

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat panjang pantai terdampak di sisi Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Pasir Utara mencapai lebih dari 60 kilometer.

Luas cakupan areal cemaran minyak tumpah yang masif itu turut merusak ekosistem dan biota laut.


KLHK mendapati lahan hutan mangrove seluas 34 hektare sudah tercemar minyak, ribuan kepiting hasil budidaya warga mati, habitat ikan tangkap nelayan pun sirna.

Burhanudin (60) satu pekan terakhir ini lebih banyak mengabiskan hari-harinya dengan duduk di sebuah saung yang berada di jembatan dekat rumahnya di kawasan hutan bakau, Karingau, Balikpapan Barat.

Burhanudin merupakan salah satu dari sekitar 40 nelayan warga rukun tetangga (RT) 01 dan 02 Kariangu yang sudah sepekan tak bisa melaut untuk mencari ikan.
Yang Tersisa dari Tragedi Minyak Tumpah di Teluk BalikpapanPetugas saat menguras minyak di bibir pantai. (ANTARA FOTO/Sheravim)

Dia sempat membantu aparat membersihak ceceran minyak di perairan. Tapi pekerjaan itu ibarat menguras air laut. Cemaran minyak sampai saat ini masih ditemukan tercecer di beberapa tempat.

Tempat tinggal Burhanudin hanya berkisar dua kilometer dari titik yang diperkirakan menjadi lokasi insiden patahnya pipa serta kebakaran dua kapal nelayan dan satu kapal kargo pengakut batu bara saat kejadian.

"Jelas sekali terlihat dari sini waktu itu," kata Burhanudin saat ditemui CNNIndonesia.com.

Burhanudin kini tak bisa melaut karena alat tangkap ikan miliknya sudah terpapar minyak. Dia kini tengah memutar otak karena harus mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk modal membuat sejumlah alat tangkap ikan seperti belat dan jala.


Menurutnya, nelayan harus mengganti seluruh peralatan tersebut dengan yang baru setelah perairan Teluk Balikpapan bersih dari cemaran minyak Pertamina.

"Bagaimana ikan sama udang mau naik, dia kan cari makan di lumpur, (sementara) lumpur bau minyak. Jadi keluar (kabur) dia," kata Udin.

Di tempat terpisah, pengelola keramba kepiting, Rustam (40), harus menerima nasib bisnisnya merugi akibat tumpahan minyak Pertamina.

Saat kejadian minyak tumpah, Rustam mengaku langsung mengambil langkah untuk menyelamatkan kepiting di kerambanya yang berjumlah hampir sekitar 1 ton.

"Tapi, hasilnya hanya sekitar 150 kilogram yang berhasil diselamatkan dan saya jual," katanya saat ditemui di lokasi kerambah kepitingnya, Desa Salok Using, Karingau.
Yang Tersisa dari Tragedi Minyak Tumpah di Teluk BalikpapanIkan-ikan mati akibat minyak tumpah di Balikpapan. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)

Selebihnya, sebanyak 300 kilogram kepiting mati terpapar minyak. Ada juga sekitar 300 kilogram kepiting yang coba diambil dari keramba untuk dipisahkan, namun sudah tak bisa dijual lantaran ikut terpapar minyak.

"Kepiting yang hidup tidak bisa dijual lagi karena terkontaminasi minyak. Kalau nekat dijual, nanti pasti kami yang diprotes pembeli," ucap dia.

Sama seperti Burhanudin, Rustam berharap pemerintah atau pemangku kepentingan memberikan pihaknya bantun dengan mengganti rugi sekitar 45 kerambah kepiting yang telah rusak akibat tercemar minyak.

"Tidak usah ganti rugi kepitingnya lah, tapi kerambanya saja," ujar dia.


Pemerintah dan Pertamina mengklaim sudah hampir membereskan urusan cemaran minyak di kawasan Teluk Balikpapan. Namun hasil penelusuran CNNIndonesia.com, ceceran minyak tumpah itu masih ditemukan di banyak titik perairan teluk dan daerah aliran sungai yang menjorok ke laut.

Pemerintah kini telah mengirim tim investigasi untuk mencari tahu pihak yang bertanggung jawab atas insiden patahnya pipa penyalur minyak milik Pertamina di Teluk Balikpapan.

Kepolisian melalui Polda Kaltim pun telah membuka penyelidikan atas insiden tersebut. Pihak yang bersalah bisa dijerat Pasal 99 UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sementara KLHK kini dalam posisi bertanggung jawab mengurus tuntutan perdata untuk ganti rugi masyarakat.
Yang Tersisa dari Tragedi Minyak Tumpah di Teluk Balikpapan(CNN Indonesia/Fajrian)





(gil)