Dalam membacakan pleidoinya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (13/4), Setya mengawali dengan harapan supaya majelis hakim bisa memutus perkaranya secara adil. Suaranya bergetar ketika dia mulai menceritakan masa lalunya.
Menurut Setya, dia bukan berasal dari keluarga berada. Bahkan selepas lulus Sekolah Menengah Atas dia merantau ke Surabaya buat kuliah sambil bekerja serabutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bukan keturunan orang kaya. Saya lahir dari orang tak mampu tapi saya punya tekad dan cita-cita membangun negeri ini. Inspirasi itu dari John F Kennedy," kata Setnov.
Setelah lulus kuliah di Surabaya, Setya lantas mengadu nasib ke Jakarta. Saat kuliah lagi, dia mengingat saat-saat pertemuan pertamanya dengan Hayono Isman.
"Karena kemurahan anak Malang ini saya bisa jadi orang. Saya rela mengabdi jadi pembantu, nyuci, ngepel, sopir untuk melanjutkan hidup," ujar Setya.
Setya lantas menyatakan setelah bertemu dengan Hayono, jalannya semakin terbuka lebar. Jejaringnya juga bertambah luas. Dia mulau mengenal pengusaha-pengusaha dan tokoh politik papan atas.
"Saya dipertemukan orang hebat dan diajari banyak hal. Sudyatmono, Akbar Tanjung, dan juga tak lupa Aburizal Bakrie yang mengundang saya ke politik. Orang-orang ini jadi perantara keberhasilan usaha saya bangun," ujar Setya. (ayp/gil)