Anak-anak Korban Bom Samarinda Disebut Masih Trauma

CTR, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 01:21 WIB
Anak-anak Korban Bom Samarinda Disebut Masih Trauma Anak-anak korban Bom Samarinda ada yang histeris hingga lari ketika melihat atau mendengar sesuatu yang mengingatkan mereka terhadap kejadian itu. Foto: CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak-anak yang menjadi korban bom Gereja Samarinda disebut mengalami trauma. Para orang tua korban mengatakan anak-anak mereka mengalami gejala trauma bermacam-macam.

Hal ini disampaikan para orang tua korban saat bersaksi dalam sidang terdakwa kasus bom Thamrin, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/4).

Pengakuan pertama meluncur dari lisan Jekson Sihotang. Menurut dia perilaku sang anak, Anita Kristobel Sihotang kini berubah.


"Biasanya sebelum kejadian ini, kalau kita manasin motor (Anita) enggak pernah takut. Belakangan sudah panasin (mesin motor) sedikit langsung lari ke rumah," kata Jekson.


Menurut Jekson, Anita juga trauma kalau mendengar suara petasan dalam kondisi tertentu. Apalagi ketika Ramadan dan Idul Fitri.

"Pas bunyi meriam mereka teriak-teriak. Kadang-kadang kita lihat suara yang besar lainnya juga masih trauma," kata Jekson dengan suara parau.

Tak hanya Anita, Alvaro, putra dari Marsyanah Tiur pun mengalami trauma. Menurut dia sang anak mulai histeris ketika melihat kompor menyala saat memasak sehari-hari.

"Kalau lihat saya masak dia bilang, 'sakit mama'. Dia teriak. Kalau aktivitas dia biasa," ujar Marsyana.


Sejauh ini Marsyana mengatakan kondisi kejiwaan putranya dibantu oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Marsyana pun berencana memperpanjang bantuan dari LPSK yang bakal habis pada akhir April.

"Saya ada bantuan dari LPSK di-cover untuk psikologis. Mudah mudahan ada respon untuk perbaikan psikisnya," kata Marsyana.

Jaksa penuntut umum menduga Aman Abdurrahman terlibat dalam aksi serangan bom Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Aman merupakan terdakwa kasus terorisme di lima lokasi di Indonesia.


Adapun terpidana utama dalam bom Samarinda adalah Joko Sugito. Jaksa menduga Sugito dan Aman pernah bertemu di Lembaga Permasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Dalam kesaksian Sugito pada 27 Maret 2017 di PN Jakarta Selatan, ia mengatakan sering merakit bom untuk persiapan akhir zaman. Pemahaman itu diperolehnya setelah mendengar sejumlah ceramah Aman. (ayp)