Akhir Drama 36 Jam Mako Brimob yang Meninggalkan Tanda Tanya

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Kamis, 10/05/2018 20:24 WIB
Akhir Drama 36 Jam Mako Brimob yang Meninggalkan Tanda Tanya Anggota kepolisian melakukan pengamanan Mako Brimob Kelapa Dua usai kerusuhan napi teroris. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Drama kerusuhan dan penyanderaan selama 36 jam yang terjadi di rumah tahanan Markas Korps Brigade Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat masih meninggalkan tanda tanya di akhir perjalanan ceritanya.

Pengamat terorisme, Harits Abu Ulya, menilai drama itu bahkan berakhir dengan ketidaksinkronan pernyataan antara Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto dan Wakil Kepala Polri (Wakapolri) Komisaris Jenderal Syafruddin.

"Jika memperhatikan dengan seksama paparan mereka (Wiranto dan Syafruddin), ada kesan ketidaksinkronan dan masih banyak hal yang tidak terungkap tuntas oleh awak media," kata Harits dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (10/5).



Menurutnya, beberapa hal yang tidak sinkron dan meninggalkan tanda tanya itu antara lain terkait kronologi sejumlah narapidana kasus terorisme bisa menguasai senjata api, senjata tajam, dan bom. Harits pun mempertanyakan pendekatan dengan istilah 'soft approach' yang dilakukan polisi hingga akhirnya narapidana teroris melepaskan sandera dan memilih menyerah.

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu juga mengaku belum memahami seputar penyebab pecahnya kerusuhan yang berujung tersanderanya sejumlah personel kepolisian

"Apakah benar hanya soal sepele makanan pada hari itu yang memicu terjadinya insiden tersebut?" ujar dia.

Harits menduga, aparat kepolisian telah menggunakan mantan terpidana sekaligus terdakwa sejumlah kasus terorisme, Aman Abdurrahman, untuk menjembatani pembicaraan dengan narapidana teroris.

Dia berpendapat, polisi melakukan pendekatan kepada Aman terlebih dahulu agar bersedia membantu menyelesaikan insiden yang pecah sejak Selasa (8/5) malam.

Harits menuturkan, dugaan ini bukan tanpa dasar. Dia mengatakan, selain merupakan salah satu penghuni ruang tahanan di Mako Brimob, Aman merupakan sosok yang dipatuhi dan didengar nasihatnya.

"Aman posisinya dipatuhi dan didengar pendapatnya. Dalam insiden ini, bisa jadi Aman tidak sependapat dan tidak mendukung aksi narapidana teroris yang latar belakang aksinya adalah urusan perut atau hal tidak penting," tuturnya.


Secara terpisah, pengamat terorisme Zaki Mubarak menilai polisi tidak membeberkan secara jujur seputar insiden kerusuhan dan penyanderaan yang terjadi di rumah tahanan Mako Brimob, seperti terkait faktor pemicu.

Dia menilai faktor pemicu kerusuhan dan penyanderaan adalah masalah ideologi, bukan persoalan makanan salah satu narapidana yang ditahan petugas.

Zaki menerangkan ideologi yang dimaksud adalah pandangan bahwa polisi adalah kaum thaghut alias tersesat.

"Saya tidak yakin faktor pemicunya lebih dari itu dan lebih ideologi. Mereka anggap polisi thaghut, artinya mereka merasa dipermalukan dan dihina dengan ditahan di markas para thaghut. Mereka tidak terima dengan kondisi seperti itu," tuturnya kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, dia berpendapat, narapidana teroris telah merencanakan aksi kerusuhan dan penyanderaan ini sejak lama. Dia pun menduga, aksi ini terkait jelang sidang pembacaan tuntutan terhadap Aman sebagai terpidana sejumlah kasus terorisme yang diagendakan berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Jumat (11/5).

"Menurut pandangan saya, aksi itu sudah terencana jauh di belakang. Bukan soal makanan, kalau itu selalu rutin ada persoalan setiap bulan. Mungkin (karena) besok Aman dituntut oleh jaksa," ujar dia.

Akhir Drama 36 Jam Mako Brimob yang Meninggalkan Tanda TanyaSalah satu napi teroris keluar menyerahkan diri di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, 10 Mei 2018. (Dok. Divisi Humas Polri)

Serupa Harits, Zaki pun menduga petugas kepolisian telah mengikutsertakan Aman dalam mengakhiri insiden kerusuhan dan penyanderaan di rutan Mako Brimob.

Menurutnya, peran Aman sebagai figur yang berpengaruh dinilai polisi penting untuk menjembatani komunikasi dengan narapidana teroris.

"Itu bagian dari negosiasasi yang polisi tidak mengungkapkannya. Dugaan saya, ada komunikasi dengan Aman terkait perundingan yang berlangsung hingga akhirnya pindah ke Nusakambangan," tuturnya.

Berangkat dari itu, Zaki menilai polisi mengalami banyak kekalahan dalam insiden kerusuhan dan penyanderaan di rumah tahanan Mako Brimob. Menurutnya, narapidana teroris sukses muwujudkan keinginannya, seperti mendapatkan ekspose dunia internasional hingga sebanyak 145 orang dipindahkan dari Mako Brimob ke Pulau Nusakambangan.

"Apa yang jadi target itu mereka dapatkan. Seperti ekspose internasional, mereka ingin aksinya diliput media internasional sehingga dengan cepat hanya selang beberapa jam naik di seluruh media dunia bahwa mereka mampu jihad di markas polisi," tuturnya.

Tindakan Tepat Polisi

Terkait operasi penanggulangan aksi kerusuhan napi teroris di Mako Brimob, Zaki menilai pola penanganan yang diambil polisi sudah tepat. Menurutnya, polisi tidak memiliki pilihan lain untuk menyelesaikan insiden ini secara ideal. Langkah yang dapat diambil polisi, katanya, hanya melakukan negosiasi demi mengantisipasi agar jumlah korban tewas tidak bertambah.

"Ini penanggulangan jangka pendek. Artinya, bagaimana mencari solusi untuk menghindari korban yang lebih banyak, karena terus terang dalam kasus penyanderaan ini posisi kepolisian lemah," tutur dia.


Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mendatangi Mako Brimob setibanya di Jakarta dari Yordania menjelaskan kronologi, serta upaya penanggulangan yang akhirnya membuat aksi napi teroris berhenti setelah 36 jam.

"Opsi kami langsung masuk (menyerbu), atau opsi memberikan warning. Karena kami tahu dari 155 (narapidana terorisme di Mako Brimob) ada pro-kontra. Ada yang ingin mendukung kekerasan sekelompok lainnya, ada yang tidak ingin," kata Tito dalam konferensi pers di Mako Brimob, Kamis (10/5) malam.

Tito mengaku saat itu dirinya yang masih berada di Yordania pun melaporkan opsi-opsi tersebut kepada Presiden RI Joko Widodo. Tito menyatakan Presiden Jokowi sendiri telah memerintahkan polisi mengambil tindakan tegas, seandainya tidak ada opsi lain.

"Sepanjang malam warning sudah disampaikan. Alhamdulillah, satu sandera brigadir Iwan Sarjana, jam 12 malam dilepas oleh mereka. Dan besok paginya mereka keluar menyerahkan diri," ujar Tito yang baru tiba di Jakarta pada Kamis (10/5) petang. (kid/kid)




BACA JUGA