Percepatan penyelesaian revisi UU Antiterorisme ini agar Indonesia aman dari aksi terorisme pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Selasa (8/5) lalu.
"Kalau mau negara aman, yang terbaik untuk negara dipercepat saja (revisi UU Terorisme)," kata Ryamizard di Kementerian Pertahanan, Jakarta, (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:PKS Ungkit Nama Ahok dalam Rusuh Mako Brimob |
Ia juga mendukung penuh masuknya keterlibatan TNI dalam memberantas terorisme di Indonesi, dalam revisi UU tersebut. Menurutnya setiap elemen atau unsur yang menjaga pertahanan negara wajib dilibatkan dalam usulan revisi UU tersebut.
Meski begitu, Ryamizard menegaskan peranan TNI maupun Polri dalam penindakan aksi terorisme harus diatur secara jelas dan terperinci dalam revisi UU tersebut.
"Harus diatur kapan dia ikut, kapan dia tidak ikut, jadi harus sama-sama (diatur), kapan polisi penuh tak ada TNI-nya, kapan TNI penuh tak ada polisinya, kapan mereka melakukan bersama-sama," kata dia.
Ryamizard juga meminta agar pembahasan revisi UU tersebut jangan hanya mengedepankan ego sektoral dari salah satu pihak tertentu.
Menurutnya, baik kepolisian maupun TNI bisa menyatukan pendapat bahwa teroris merupakan musuh bersama bangsa Indonesia yang membutuhkan kolaborasi dalam memberantasnya.
"Namanya teroris musuh bersama, bukan musuh satu orang saja, enggak betul. Jadi jangan sampai, 'oh dia musuh TNI musuh itu'. Jadi teroris itu musuh kita bersama-sama, kok. TNI siapa polisi siapa, kan, sama-sama aparat negara," ujar Ryamizard.
[Gambas:Video CNN] (osc/wis)