"Kalau itu dimunculkan satu keluarga, sel-sel dalam keluarga, dia tidak perlu menggunakan alat komunikasi, sehingga sulit dideteksi. Cukup berbisik-bisik di rumah akan merencanakan apa, begini cukup," ujar Moeldoko di kantor wakil presiden Jakarta, Rabu (16/5).
Cara ini berbeda dengan pelaku teror yang bukan berasal dari satu keluarga. Menurut Moeldoko, pola komunikasi kelompok teror yang bukan satu keluarga akan lebih mudah dideteksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesulitan lain dalam aksi teror yang marak sepekan terakhir ini karena cara pelaku teror meledakkan diri.
"Ini metode baru yang perlu diantisipasi karena melampaui dari apa yang dipikirkan pelaku," ucap Moeldoko.
Dalam tindakan preventif ini, pemerintah daerah harus melibatkan masyakarat khususnya pemuka agama dan tokoh masyarakat di daerah. Tjahjo menegaskan perjuangan melawan terorisme bukan hanya tugas TNI dan polisi.
"Koordinasi dengan semua pihak dengan pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat di daerah agar bisa deteksi dini terhadap terorisme," kata Tjahjo usai menghadiri acara Konsolidasi Penyiapan RPJMD 2019 s/d 2023 di Hotel Bidakara, Jakarta.
Tjahjo menjelaskan masyarakat dalam pendeteksian dini memegang peranan penting karena terduga teroris juga berasal dari lapisan masyarakat.
Tjahjo menyebut tindakan preventif terhadap terorisme akan membawa kestabilan di setiap daerah. Pasalnya keamanan di daerah terjaga sehingga menciptakan suasana kondusif.
Dengan suasana kondusif, kata Tjahjo, akan menunjang program-program yang dicanangkan oleh pemerintah daerah. (wis)