Menko Polhukam Bantah BIN dan Polri Kebobolan soal Aksi Teror

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 21:16 WIB
Menko Polhukam Bantah BIN dan Polri Kebobolan soal Aksi Teror Menko Polhukam Wiranto menepis penilaian sejumlah pihak bahwa BIN dan Polri kebobolan atas terjadinya rangkaian teror dalam sepekan terakhir. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto membantah Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kepolisian kebobolan mengenai rangkaian teror yang terjadi di sejumlah titik Indonesia dalam sepekan terakhir.

"Ini, kan, bukan curi mencuri barang. Di seluruh dunia juga menghadapi hal serupa. Jangan saling menyalahkan," ujar Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (16/5).

Penilaian BIN kebobolan disampaikan salah satunya oleh Anggota Pansus RUU Terorisme Muhammad Nasir Jamil beberapa waktu lalu. Menurutnya, rentetan teror belakangan ini diakibatkan lemahnya fungsi BIN.


Badan yang dipimpin Jenderal Budi Gunawan ini disebut harusnya bekerja lebih keras mengumpulkan informasi intelijen mengenai afiliasi seseorang dengan jaringan teroris.

Di sisi lain, fraksi Partai Gerindra berpendapat Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebaiknya mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban atas serangan teror. Dia juga mengimbau Presiden tak menerbitkan Perppu Terorisme.

Mengenai penilaian dari parlemen itu, Wiranto menyatakan penanganan terorisme di Indonesia merupakan tugas bersama sehingga semua pihak diimbau untuk tak menyalahkan satu pihak tertentu.

"Tidak boleh saling menyalahkan. Saling menyadari ini tugas bersama, kalau menyalahkan itu bagian teror. Tidak bisa, ya," tutur mantan Panglima ABRI ini.

Karena itu, ia enggan menanggapi lebih lanjut desakan sejumlah pihak agar Budi Gunawan dan Tito mundur dari jabatannya.

"Itu tidak usah ditanggapi," ucapnya.

Serangkaian teror terjadi sejak tengah pekan lalu. Dimulai dari kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Selasa malam (8/5) sampai Kamis (10/5) dini hari.

Selang tiga hari kemudian, tepatnya Minggu (13/5) pagi, ledakan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, disusul malam harinya ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Teror berlanjut pada Senin (14/5) di Mapolrestabes Surabaya dengan ledakan bom bunuh diri.

Selepas itu, giliran Mapolda Riau yang jadi sasaran penyerangan terduga teroris, Rabu (16/5) pagi.

Rangkaian teror dari tengah pekan lalu ini diiringi dengan aksi penindakan Densus 88 Antiteror yang melakukan sejumlah penangkapan para terduga teroris di beberapa titik seperti di Bekasi, Sukabumi, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Tangerang, dan Palembang. (osc)