PA 212 Khawatirkan Teror Bom Picu Islamophobia

Bimo Wiwoho & RBC, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 21:55 WIB
PA 212 Khawatirkan Teror Bom Picu Islamophobia Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif mengatakan pihaknya khawatir masyarakat akan menjadi islamophobia apabila aksi teror bom masih terus terjadi. Islamophobia adalah sikap takut atau curiga terhadap segala sesuatu tentang Islam.

Slamet mengatakan hal tersebut menanggapi aksi teror yang terjadi di Surabaya dan Pekanbaru, Riau.

"Yang jelas kami mengkhawatirkan kalau ini teror dibiarkan akan menjadi Islamophobia. Ini mengkhawatirkan," ujar Slamet saat ditemui CNNIndonesia.com di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/5).


Slamet mengatakan bahwa benih-benih Islamophobia sudah mulai muncul akibat aksi teror di Surabaya Senin lalu (14/5).

Dia mencontohkan saat seorang santri diminta polisi untuk membuka kardus yang dibawanya di salah satu terminal. Santri tersebut mengenakan baju koko, sarung, dan kopiah.

Slamet mengaku mengetahui itu semua dari video yang beredar di media sosial.

"Ini, kan, enggak boleh. Islam tidak bisa dikaitkan dengan teroris apalagi bom bunuh diri. Itu jauh dari ajaran Islam. Sangat menyayangkan," kata Slamet.

Slamet mengaku telah menyampaikan itu semua kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon. PA 212, kata Slamet, meminta DPR untuk mengusut agar jangan sampai kejadian serupa terjadi kembali.

Deteksi Dini

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani menyebut aparat keamanan belum mampu melakukan deteksi dini terhadap serangan teror yang belakangan ini terjadi di beberapa daerah.

"Kewaspadaan kita itu sekarang ini selalu terlambat, tiba-tiba kita dikagetkan," ujarnya di kompleks parlemen, Jakarta.

Muzani menyebut aparat masih kerap kali kaget saat sebuah serangan teror terjadi, padahal sebenarnya sudah ada pola yang dapat terbaca dari serangan-serangan sebelumnya.

Pola yang dimaksud adalah fakta bahwa aparat kepolisian selalu menjadi sasaran selain pusat-pusat keramaian. 

Lebih lanjut, ia meminta aparat keamanan untuk tidak menutup-nutupi informasi apa pun terkait serangan teror.

"Sehingga kita tahu di mana harus mengambil posisi untuk membantu negara, agar negara ini betul-betul selamat dari gangguan-gangguan ini. Ini problem bersama, problem kita semuanya," tegasnya. (wis)