PO Bus Mengeluh Omzet Turun Karena Program Mudik Gratis

FHR, CNN Indonesia | Rabu, 06/06/2018 04:25 WIB
PO Bus Mengeluh Omzet Turun Karena Program Mudik Gratis Menurut para perwakilan perusahaan otobus, program mudik gratis menggerus pendapatan mereka sampai sekitar 30 persen. (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Program mudik gratis yang diselenggarakan oleh berbagai pihak memberi dampak penurunan penjualan tiket bus. Hal itu dirasakan oleh para operator bus di terminal Kalideres, Jakarta Barat.

"Ya enggak banyak sih penurunannya, ada lah 30 persen (dari omzet)" kata Handoyo pengurus loket Perusahaan Otobus (PO) Nusantara di terminal Kalideres kepada CNNIndonesia, Selasa (5/6).

Ia kemudian mencontohkan, biasanya koleganya membeli tiket mudik lebaran kepada dirinya. Beberapa waktu lalu dirinya menawarkan tiket kepada koleganya itu, namun penawaran itu ditolak karena koleganya mendapat fasilitas mudik gratis dari perusahaan tempatnya bekerja.



"Sori ya mas, saya naik gratisan," kata Handoyo meniru ucapan koleganya itu.

Handoyo mengatakan, dalam satu hari bisa memberangkatkan tiga hingga lima unit bus menuju sejumlah daerah di Jawa Tengah, itu pun tidak semua bangku terisi penumpang. Sedangkan beberapa hari jelang hari raya Idul Fitri, pihaknya bisa memberangkatkan lima hingga delapan bus.

Mengenai harga tiket, kata Handoyo, untuk bus tujuan Jakarta-Kudus atau Jepara dengan jumlah 32 kursi dijual seharga Rp360 ribu. Sedangkan untuk bus yang berkapasitas 21 kursi dipatok lebih mahal, yakni Rp500 ribu.


Hal senada diungkapkan H Purba pengelola loket PO Sumber Alam di Terminal Kalideres. Menurut dia, sepanjang Ramadhan tahun lalu saja dia hanya mengantarkan sekitar 500 penumpang.

"Iya bus gratis bikin merosot (omzet). Kebanyakan pada mau naik bus gratis," kata Purba.

Selain keberadaan bus gratis, lanjut dia, persaingan usaha bidang transportasi juga semakin ketat. Hingga saat ini ada berbagai jenis PO dengan penawaran harga yang bersaing, meskipun selisihnya tidak besar, yakni sekitar Rp5 ribu hingga Rp20 ribu.


Kebanyakan calon penumpang, menurut Purba, memilih bus-bus yang tampilannya bagus karena mengesankan laik jalan. Oleh karena itu, menurut dia, peremajaan bus menjadi faktor penting agar pelanggan tidak kabur.

"Saingan kami ya dengan PO lain. Persaingannya di ongkos (harga tiket) dan peremajaan bus," kata dia. (ayp/ayp)