Sandi Usulkan Pengungsi Timur Tengah Jadi Guru Bahasa

Dhio Faiz , CNN Indonesia | Jumat, 06/07/2018 11:19 WIB
Sandi Usulkan Pengungsi Timur Tengah Jadi Guru Bahasa Sandiaga Uno mengusulkan agar pengungsi Timur Tengah yang berada di Jakarta menjadi instruktur OK OCE, seperti mengajar Bahasa Inggris. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta ingin mengajak para pengungsi di Jakarta yang berasal dari negara konflik Timur Tengah untuk mengajar di OK OCE (One Kecamatan One Center for Enterpreunership).

Ide tersebut ia dapatkan setelah bertemu lembaga PBB untuk pengungsi (UNHCR) di Balai Kota, Kamis (6/7).

"Ternyata dari mereka ini banyak yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris. Jadi saya tadi menawarkan dengan kolaborasi dengan imigrasi dengan Dinas Pendidikan apakah bisa mereka dipakai untuk memberikan pelajaran bahasa Inggris di OK OCE," kata Sandi di Balai Kota.



Dia menyadari para pengungsi itu selama ini tidak diperbolehkan mendapat pekerjaan lantaran status tinggal mereka di Indonesia hanya sementara. Meski pada kenyataannya banyak dari pengungsi itu yang tak cakap berbahasa Inggris, Sandi yakin ada di antara mereka yang mampu mengajar bahasa Inggris.

Ia juga yakin ada beberapa di antara pengungsi itu yang memiliki kemampuan dalam hal teknik mesin, tata boga, dan sebagainya.

"Banyak juga dari mereka yang punya skill. Mungkin mereka dulunya adalah engineer, maupun juga guru, nah ini ternyata mereka tertarik. Walau mereka tidak boleh berkerja di sini, tapi mereka bisa menjadi instruktur pendamping di OK OCE," lanjut Sandi.

Sandi Usulkan Pengungsi Timur Tengah Jadi Guru Bahasa InggrisPara pengungsi dan pencari suaka dari sejumlah negara mendirikan tenda darurat sebagai tempat bernaung di pinggir jalan di kawasan Kalideres. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Selain itu Sandi juga menyebut Pemprov DKI Jakarta akan mengeluarkan kartu khusus bagi anak para pengungsi agar dapat bersekolah di sekolah negeri.

Kini UNHCR mencatat ada 22,5 juta pengungsi di dunia, terbesar sejak Perang Dunia II. Meski tak ikut berkonflik apalagi berperang, Indonesia kena imbasnya. Sebanyak 13.840 orang dari puluhan juta pengungsi itu berada di Tanah Air.

Indonesia mengalami dilema dalam urusan pengungsi. Kemenkumham mengatakan Indonesia tak memiliki tanggung jawab apapun soal penanganan pengungsi karena tidak meratifikasi Konvensi Internasional 1951 tentang Status Pengungsi dan Protokol 1967.

Ratifikasi Konvensi Jenewa terkait HAM jadi satu-satunya alasan Indonesia masih mengurusi sedikit soal pencari suaka.

Indonesia juga hanya memiliki satu payung hukum untuk mengurusi para pengungsi, yakni Peraturan Presiden No.125 Tahun 2016 soal Penanganan Pengungsi Luar Negeri.

Namun Perpres itu tak mengatur hak pekerjaan dan pendidikan sementara bagi para pencari suaka. Sehingga para pengungsi di Indonesia banyak yang luntang-lantung dan mengandalkan bantuan lembaga nonpemerintah.

Bahkan Menkumham Yasonna Laoly menyebut para pencari suaka sebagai beban bagi Indonesia.

"Di beberapa daerah itu sudah menjadi beban, banyak Pemda yang keberatan dan menolak," ujar Yasonna.

(ugo/kid)