"Kami tetap solid di dalam memberikan dukungan kepada pak Jokowi, kami tidak ada masalah di situ," ujar Hasto saat ditemui di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Kamis (26/7).
Hasto menyampaikan itu untuk merespons politikus PKS Fahri Hamzah yang meyakini bakal ada partai anggota koalisi pendukung Jokowi yang keluar usai pertemuan SBY-Prabowo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasto mengatakan soliditas partai koalisi dapat dilihat dari keakraban keenam ketua umum parpol itu saat menghadiri jamuan makan malam oleh Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu lalu.
Selain itu, ia mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi yang tinggi dan stabil serta kinerja pemerintahan selama empat tahun terakhir ini menjadi salah satu perekat soliditas antar ketua parpol untuk merapatkan barisan mendukung Jokowi di Pilpres 2019.
"Melihat kepemimpinan pak Jokowi dengan baik bisa diterima rakyat, dan elektablitas beliau tinggi meskipun memiliki masalah yang tidak ringan jadi alasan soliditas mereka," ujarnya.
"Jumlah pendukung sekarang sudah lebih dari 60 persen dan memenuhi syarat terciptanya pemerintahan yang efektif dan stabil," ujar dia.
Cawapres Jokowi
Terpisah, Wakil Sekertaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi mengatakan dinamika politik dalam koalisi pendukung oleh Joko Widodo menjelang Pilpres 2019 sangat berbeda dengan SBY saat akan mencalonkan diri pada periode kedua jabatannya di 2009 lalu.
Didi mengklaim lebih berani mengumumkan nama pendampingnya jauh sebelum masa pendaftaran. Hal itu tidak dilakukan oleh Jokowi.
"Pada 2009 Pak SBY jauh sebelum pendaftaran sudah umumkan nama Budiono. Sedangkan Pak Jokowi justru menunggu injury time," kata Didi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Padahal kata Didi mengumumkan calon pendamping jauh sebelum masa pendaftaran dianggap penting agar masyarakat bisa menilai kapasitas calon wakil pemimpin negara itu.
"Tidak usah lah menunggu dua pekan atau sehari sebelum masa pendaftaran habis," kata dia.
"Masyarakat malah suruh menebak kucing dalam karung," kata dia.
Untuk itu, Didi meminta agar Jokowi segera mengumumkan cawapres yang akan mendampinginya dalam perhelatan Pilpres 2019 mendatang.
"Jangan biarkan ketidakpastian ini menjadi tidak pasti, pak Jokowi yang jumlahnya paling besar kenapa ragu-ragu ini akan lebih jelas dan memberikan kepastian," kata Didi.
(wis)