Tepis Jokowi, PKS Klaim Pertumbuhan Ekonomi Belum Berkualitas

Tiara Sutari & Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 16:46 WIB
Tepis Jokowi, PKS Klaim Pertumbuhan Ekonomi Belum Berkualitas Presiden Jokowi memberikan salam saat menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR 2018 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai-partai oposisi bereaksi keras terhadap pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di Gedung DPR/MPR, Kamis (15/8). PKS membantah klaim Jokowi soal pertumbuhan yang berkualitas, sementara Gerindra menyebut Jokowi melakukan akrobat statistik.

Sekretaris Bidang Ekuintek DPP PKS Handi Idris menilai klaim Presiden Joko Widodo soal pertumbuhan ekonomi yang berkualitas tidak tepat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen belum mampu menyejahterakan masyarakat.

Jokowi dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong berkualitas meski hanya berada di kisaran 5 persen per tahun.


"Belum bisa dikategorikan berkualitas," ucap Handi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (16/8).

Handi menjelaskan pertumbuhan ekonomi masih stagnan karena dari laporan semester 1 2018, pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 5,01 persen dari target 5,40 persen dalam APBN 2018. 


Jika dirinci, pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 2,75 persen, sedangkan konsumsi pemerintah hanya berkontribusi 0,16 persen. Kemudian, Aspek Investasi menyumbang sebesar 2,54 persen dan aspek Ekspor-Impor -1,13 persen. Jika disimpulkan, lanjut Handi, sektor rumah tangga masih dominan dalam perekonomian nasional.

Handi mengatakan Pertumbuhan ekonomi nasional juga lebih banyak disumbang oleh sektor non-treadable seperti sektor informasi dan komunikasi (8,69 persen), transportasi (8,59 persen), konstruksi (7,35). Sedangkan pertumbuhan sektor tradble good seperti pertanian hanya tumbuh 3,14 persen, industri pengolahan 4,50 persen.

Artinya, kata dia, sektor yang mengandalkan capital intensif lebih dominan dibandingkan sektor labor intensif.

"Jadi pertumbuhan ekonomi kita saat ini, selama masih ditopang oleh non tradable good dan konsumsi rumah tangga," ujar Handi.

"Pertumbuhan ekonomi belum berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat," lanjutnya.


Dia melanjutkan pertumbuhan ekonomi yang stagnan juga menunjukkan belanja infrastruktur belum berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Utang luar negeri yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi juga belum berdampak terhadap perekonomian.

Sebelumnya, Jokowi mengklaim pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas. Dia mengatakan demikian merujuk dari pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas 5 persen per tahun dengan inflasi yang cukup rendah di kisaran 3,5 persen.

"Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan pengendalian inflasi yang terjaga membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berkualitas dan dapat dirasakan dampaknya," ucap Jokowi di hadapan Anggota DPR dan MPR, Kamis (16/8).

Akrobat Statistik

Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade menyebut isi pidato Presiden Jokowi tak lebih dari narasi politik yang isinya berupa akrobat statistik seorang pemimpin negara untuk kembali bertarung di Pilpres mendatang.

Andre mengaku tak ingin menyalahkan Jokowi dengan isi pidatonya itu. Dia hanya menyebut bahwa dalam pidato itu statistik lah yang salah.


"Enggak salah, itu kan narasi politik dan yang dia sampaikan itu akrobatik statistik yang memang tidak sesuai fakta di lapangan saja," kata Andre kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi melalui telepon.

Andre pun menyebut sangat wajar bagi Jokowi jika ingin menyampaikan klaim keberhasilannya selama menjabat sebagai presiden. Meski kata Andre Jokowi tak ingin melirik fakta yang terjadi di lapangan.

Andre meyakini masyarakat saat ini tak akan bisa dibohongi hanya melalui data-data statistik yang diungkapkan Jokowi melalui pidato kenegaraan itu. Sebab yang merasakan kesulitan justru masyarakat itu sendiri.

"Yang dirasakan masyarakat sekarang adalah bagaimana sulitnya cari lapangan kerja, jadi contoh kecilnya begini kalau engga ada gojek atau grab jutaan rakyat ini pengangguran. Itu saja yang paling kecil," katanya. (wis)