HUT ke-73 RI

Frans Kaisiepo dan 'Ikut Republik Indonesia Anti Nederland'

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 13:30 WIB
Frans Kaisiepo dan 'Ikut Republik Indonesia Anti Nederland' Pahlawan nasional asal Papua Frans Kaisiepo. (Pos Indonesia via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0))
Jakarta, CNN Indonesia -- Frans Kaisiepo, pahlawan yang hadir dalam lembaran uang pecahan Rp10 ribu, adalah pejuang pro-integrasi Papua dengan Indonesia. Dari keringatnya, lahir nama Irian, akronim dari 'Ikut Republik Indonesia Anti Nederland'.

Di kala perintah mengibarkan bendera bintang kejora menggema dari Belanda, ia memilih merah putih dengan segala risiko.

Frans, yang lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921, dikenal sebagai aktivis gerakan kemerdekaan RI sejak muda. Setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dia jadi salah satu orang yang mengibarkan sang saka Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di Papua.


Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan perkenalan Frans dengan rasa nasionalisme Indonesia dimulai saat dia bertemu dengan Sugoro Atmoprasodjo, seorang mantan bekas tahanan politik di Digul.

"Perkenalan inilah yang menumbuhkan rasa kebangsaan," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Perkenalan itu membuat Frans, yang bersekolah di Bestuur School/Pamong Praja pada 1952-1954, bangkit jiwa nasionalismenya.

Gerakan dukungannya terhadap Indoenesia dimulai dari hal dasar, yakni soal nama. Ia mempromosikan nama Irian, alih-alih Papua.

Uang kertas emisi 2016 pecahan Rp10 ribu bergambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo, 2016.Uang kertas emisi 2016 pecahan Rp10 ribu bergambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo, 2016. (cnnindonesia/safirmakki)
Irian diketahui berasal dari Bahasa Biak, Papua, yang berarti 'sinar yang menghalau kabut'. Dalam Bahasa Merauke, "Iri" artinya ditempatkan atau diangkat tinggi, sementara "an" artinya bangsa. Sehingga, Irian adalah bangsa yang diangkat tinggi.

Frans kemudian meminta saudaranya, Markus Kaisiepo, untuk mengganti nama kursus yang diikutinya, dari yang sebelumnya Papua Bestuurschool menjadi Irian Bestuurschool.

Perubahan nama itu ia promosikan dalam Konferensi Malino, Sulawesi Utara, 1946. Saat itu, ia menjadi salah satu anggota delegasi RI satu-satunya yang berasal dari Papua.

Pada kesempatan itu, Frans, dalam pidatonya, menyuarakan pergantian nama Papua dan Nieuw Guinea dengan nama Irian, 16 Juli 1946.



Kolonial


Sementara, banyak versi muasal kata Papua. JHF Sollewijn Gelpke, dalam tulisannya On the Origin of the Name Papua (1993), mengatakan bahwa nama Papua berasal dari bahasa Biak, 'sup i babwa'. Artinya, tanah/negeri di bawah, atau tanah/negeri di bawah matahari terbenam.

Dialek Raja Ampat membuat pengucapannya menjadi "sup i papwa". Lantaran itulah 'Papua' perlahan menjadi sebutan tersendiri bagi Pulau Nugini dan penduduknya.

Dikutip dari situs resmi Pemprov Papua, kata Papua berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut keriting, yang merupakan penampilan fisik suku-suku asli pulau terbesar di Indonesia itu.

Bagi Asvi, pemilihan nama Irian oleh Frans untuk dipromosikan adalah tepat. Sebab, nama ini sangat Indonesia karena merupakan kependekan dari 'Ikut Republik Indonesia Anti-Nederland'. Sementara, nama Papua dipakai di era penjajahan Belanda.

Presiden Joko Widodo menaiki KRI Frans Kaisiepo-368, di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, 2016.Presiden Joko Widodo menaiki KRI Frans Kaisiepo-368, di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, 2016. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

"Irian itu sangat Indonesia, kalau Papua itu sangat kolonial," ungkapnya.

"Nama Irian itu mengingatkan kepada perjuangan untuk pembebasan Irian Barat dari penjajah Belanda," lanjut Asvi.

Diketahui, Papua atau Irian adalah salah satu bagian wilayah di Pulau New Guinea atau Nugini. Di bagian timur ada negara Papua Nugini, sementara Papua atau Irian berada di sebelah barat.

Itulah kenapa kelompok separatis Papua senang menyebut wilayah itu sebagai Papua Barat dengan benderanya Bintang Kejora, yang dipromosikan Belanda.

Buat Parpol

Perjuangan Frans berlanjut dengan partai politik, yakni Partai Indonesia Merdeka, di Biak, 1946. Lukas Rumkoren dipilih sebagai pemimpinnya.

"Ia (Frans) berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Ia melakukan gerakan anti Belanda dengan mendirikan Partai Indonesia Merdeka tahun 1946," ujar Asvi.

Meski Indonesia telah merdeka, pemerintah Belanda belum mengizinkan rakyat Papua untuk mengibarkan bendera merah putih pada 17 Agustus 1947. Hal itu membuat Ketua PKII, Silas Papare, yang mengibarkannya, ditangkap dan dipenjara selama tiga bulan.

Frans dan teman-temannya mengambil alih tugas Silas untuk mengibarkan bendera itu.

Ratusan orang dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berunjuk rasa di kawasan Bundaran HI, Jakarta, 2014.Ratusan orang dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berunjuk rasa sambil memakai atribut 'Bintang Kejora' di kawasan Bundaran HI, Jakarta, 2014. (Safir Makki)
Tak hanya itu, pemberontakannya dilakukan saat Konferensi Meja Bundar Belanda-Indonesia, 1948. Ketika itu, ia ditunjuk Belanda sebagai pemimpin delegasi Belanda New Guinea.

Namun, hal itu dia tolak karena merasa Belanda berusaha mendiktenya. Perlawanannya itu berujung penjara dari 1954-1961.

Selanjutnya, Frans membentuk Partai Politik Irian pada 1971 setelah keluar dari penjara. Misi utama dari pembentukan partai tersebut adalah berupaya agar wilayah Nugini bisa bersatu dengan Indonesia.

Bintang Kejora

Upaya Belanda tetap menguasai Papua dan menjadikannya negara boneka digagalkan Indonesia dengan operasi Trikora (Tri Komando Rakyat), 1 Desember 1961.

Kala itu, Belanda menetapkan wilayah itu dengan nama Papua Barat. Mereka juga memerintahkan masyarakat untuk mengibarkan bendera baru, Bintang Kejora. Bentuknya, bintang putih dengan latar merah berpadu dengan garis-garis biru-putih horizontal.

Pada 1 Mei 1963, wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke NKRI. Pemerintah RI menggunakan nama warisan dari Frans, Irian Barat.

Baru pada 1969, dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian NKRI setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA).

Selanjutnya, Presiden Soeharto pada 1 Maret 1973 mengubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, bersamaan dengan peresmian operasional tambang Freeport.

Presiden Soeharto mengubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya.Presiden Soeharto mengubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya. (REUTERS)

Saat kunjungan resmi kenegaraan Presiden sekaligus menyambut pergantian tahun 2000, Gus Dur mengumumkan bahwa nama Irian Jaya kembali dijuluki Papua.

Gubernur

Atas perjuangannya di Papua, Frans didapuk sebagai Gubernur Irian Barat dari 1964 hingga 1973. Dia juga menjadi anggota Kepemimpinan Hakim Tertinggi, Dewan Pertimbangan Agung RI pada 1972.

Frans Kaisiepo menghembuskan nafas terakhir pada 10 April 1979. Jasadnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Biak, Papua.


Ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional menurut Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993, bertepatan dengan 30 tahun Papua kembali ke Indonesia. Dia juga dikenang sebagai satu dari penerima penghargaan Bintang Maha Putera Adi Pradana Kelas Dua.

Dia pun menjadi salah satu tokoh sejarah yang dipilih untuk dilukis dalam edisi terbaru uang kertas rupiah Indonesia edisi 2016, yakni uang kertas senilai Rp10 ribu.

(arh/asa)