HUT ke-73 RI

MH Thamrin, si Pejuang dari Tanah Betawi

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 14:51 WIB
MH Thamrin, si Pejuang dari Tanah Betawi Patung Mohammad Husni Thamrin, 2017. (AFP PHOTO / GOH CHAI HIN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cerita tentang Muhammad Husni (MH) Thamrin, pahlawan nasional yang wajahnya tersemat di uang pecahan Rp2.000, adalah kisah perjuangan bagi Indonesia yang dimulai dari lingkungannya: Betawi.

Mat Seni, panggilan akrab MH Thamrin, lahir di Sawah Besar, Jakarta, pada 16 Februari 1894. Ia terlahir di keluarga pribumi terpandang saat itu.

Ayahnya, Tabri Thamrin adalah pejabat pamong praja. Tabri juga dikenal sebagai hartawan di Batavia.


Meski lahir di keluarga berkecukupan, Thamrin merasa harus turun tangan membantu memperbaiki kondisi masyarakat saat itu. Khususnya kondisi masyarakat Betawi di Batavia.


Buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan: Haji Agus Salim dan Muhammad Husni Thamrin mencatat karier perjuangan Mat Seni dimulai pada usia 24 tahun.

Pada 1919, ia masuk sebagai anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) atau setara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) saat ini.

Mat Seni masih bekerja di Koninkpijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda, meski sudah menjabat anggota Dewan Kota. Ia baru keluar enam tahun setelahnya.

Salah satu isu yang ia soroti adalah timpangnya pembangunan kampung dan kota di Batavia. Perhatian Mat Seni tersebut dipengaruhi pengalamannya tinggal di Batavia sejak lahir.

Kawasan Kota Tua, sisa kejayaan Batavia, Jakarta, 2017. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Mat Seni jengah dengan kampung-kampung di Batavia yang selalu becek dan kebanjiran saat musim penghujan tiba.

Dia mengecam pemerintahan Hindia Belanda dengan menunjukkan kepincangan penanganan kampung. Ia pun meminta pemerintah turun langsung.

"Tuntutan MH Thamrin ini dipenuhi oleh pemerintah sebab apa yang diungkapkan memang benar. Untuk itu pemerintah mengeluarkan anggaran untuk memperbaiki kampung-kampung di Batavia," tulis buku karangan Suhatno itu.

Anggaran itu pun digunakan untuk memperbaiki jalan di kampung serta membangun Kanal Ciliwung.


Selain berkiprah di Dewan Kota, Mat Seni juga menggalang semangat perjuangan pemuda Betawi. Ia membentuk Kaum Betawi pada 1 Januari 1923.

Lalu pada 17 Desember 1927 ikut mendirikan Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) sebagai upaya menggalang gerakan perjuangan nasional.

Sejarawan Betawi Yahya Andi Saputra mengatakan gerakan Mat Seni dipengaruhi kondisi pergerakan nasional.

"Dia sebagai anak muda, melihat saudara-saudara Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon semakin bermunculan dan melahirkan Sumpah Pemuda. Dia menginisiasi pemuda-pemuda Betawi," ujar Yahya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Kali Ciliwung yang membelah kota Jakarta, yang sempat diperjuangkan oleh MH Thamrin.Kali Ciliwung yang membelah kota Jakarta, yang sempat diperjuangkan oleh MH Thamrin. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Di tahun yang sama, Mat Seni pun naik kelas ke tingkat nasional. Dia bergabung dengan Volksraad (Dewan Rakyat) atau setingkat DPR saat ini.

Dia menjadi pilihan perwakilan pribumi setelah HOS Tjokroaminoto dan Dr Soetomo menolak. Mat Seni memilih jalur kooperasi dengan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat pemerintahan.

Dia dan beberapa tokoh nasional membentuk Fraksi Nasional di Dewan Rakyat. Fraksi tersebut dibentuk untuk memperjuangkan kemerdekaan.

MH Thamrin juga lantang meminta penghapusan istilah nederland indie, nederland indische, dan inlander. Mat Seni meminta pemerintah Hindia Belanda mengganti istilah Indonesia, Indonesisch, dan Indonesier, tetapi Kolonial menolaknya.


"Akibatnya Pemerintah Belanda mulai mencurigai dan mengawasinya. Pada tanggal 6 Januari 1941, Thamrin ditangkap dengan tuduhan bekerja sama dengan pihak Jepang," catat buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan: Haji Agus Salim dan Muhammad Husni Thamrin.

Mat Seni dijatuhkan hukuman tahanan rumah. Lima hari setelahnya, ia meninggal dunia dan disemayamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Atas jasanya untuk perjuangan kemerdekaan, Pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional lewat Surat Keterangan Presiden Nomor 175 Tahun 1960. Pada 2016, wajah MH Thamrin dilukis di mata uang pecahan Rp2.000.

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin juga meminjam nama MH Thamrin untuk proyek perbaikan kampung pada 1970. Untuk menghargai jasa tokoh Betawi itu, para Gubernur DKI selalu mengunjungi makam MH Thamrin setiap ulang tahun Jakarta. (arh/asa)