Pernyataan Eva ini dikemukakan untuk menanggapi usul Rizal Ramli selaku tim ekonomi calon presiden Prabowo Subianto agar pemerintah segera menghentikan impor baja dari China.
Eva mengatakan saat ini Indonesia masih bergantung pada ekspor sawit ke China dan jika impor baja itu dihentikan kemungkinan besar Negara Tirai Bambu itu juga bakal menghentikan impor komoditas sawit dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Eva mengatakan Indonesia masih cukup bergantung dengan baja impor. Sebab produksi baja dalam negeri masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.
"Ketika kapasitas dalam negeri belum mencukupi apa mau pembangunan mandek?" kata Eva yang menambahkan bahwa manajemen Krakatau Steel perlu diperbaiki.
Meski demikian, Eva mengatakan pemerintah tetap harus mengurangi defisit neraca perdagangan dengan China yang saat ini terlampau lebar. Dia mendukung pemikiran bahwa ketergantungan asing harus segera dihentikan karena tidak sesuai dengan ideologi negara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$1,8 miliar per Agustus 2018.
Sebelumnya, Rizal Ramli meminta Presiden Joko Widodo berani melobi China dan Jepang dalam rangka pengurangan impor baja dan mobil guna mengatasi persoalan ekonomi di dalam negeri.
Menurut Rizal, salah satu cara yang paling ampuh untuk bisa mengatasi kondisi buruk ekonomi adalah dengan mengurangi defisit current account dan impor.
Rizal mengatakan pemerintah Jokowi seharusnya berani melaksanakan kebijakan anti-dumping dengan menerapkan bea masuk 25 persen terhadap baja dan turunannya. Sehingga, Rizal mengatakan, dirinya yakin Krakatau Steel akan untung lagi karena produksi baja dalam negeri naik.
"Katanya pemerintah sekarang dekat dengan China. Lobi dong Xin Jin Ping minta kurangin impor baja. Bilang kalau Indonesia krisis, China juga bisa kena," ujar Rizal. (pmg/sah/yns)