Politikus PDIP: Potong Impor Baja China Rugikan Ekspor Sawit

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 06:37 WIB
Politikus PDIP: Potong Impor Baja China Rugikan Ekspor Sawit Pekerja bongkar muat baja di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Eva Kusuma Sundari menyebut sejumlah dampak yang bisa merugikan Indonesia apabila impor baja dari China dihentikan.

Pernyataan Eva ini dikemukakan untuk menanggapi usul Rizal Ramli selaku tim ekonomi calon presiden Prabowo Subianto agar pemerintah segera menghentikan impor baja dari China.

Eva mengatakan saat ini Indonesia masih bergantung pada ekspor sawit ke China dan jika impor baja itu dihentikan kemungkinan besar Negara Tirai Bambu itu juga bakal menghentikan impor komoditas sawit dari Indonesia.


"Kalau sawit kita enggak dibeli mereka, bagaimana? Kan, lucu kalau hanya parsial gitu lihatnya," kata Eva kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (8/10).


Selain itu, Eva mengatakan Indonesia masih cukup bergantung dengan baja impor. Sebab produksi baja dalam negeri masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.

Eva menjelaskan persoalan impor baja di Indonesia yang disebut Rizal sebagai biang keladi kerugian yang diderita oleh PT Krakatau Steel tidak sepenuhnya benar dan .  tidak hubungan antara impor baja dari China dengan kerugian PT Krakatau Steel.

"Ketika kapasitas dalam negeri belum mencukupi apa mau pembangunan mandek?" kata Eva yang menambahkan bahwa manajemen Krakatau Steel perlu diperbaiki.

Anggota Komisi XI DPR RI ini menyebut Indonesia bukan hanya baru-baru ini saja impor baja karena selain dengan China, impor baja juga pernah dari Eropa. 

Meski demikian, Eva mengatakan pemerintah tetap harus mengurangi defisit neraca perdagangan dengan China yang saat ini terlampau lebar. Dia mendukung pemikiran bahwa ketergantungan asing harus segera dihentikan karena tidak sesuai dengan ideologi negara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$1,8 miliar per Agustus 2018.

Sebelumnya, Rizal Ramli meminta Presiden Joko Widodo berani melobi China dan Jepang dalam rangka pengurangan impor baja dan mobil guna mengatasi persoalan ekonomi di dalam negeri.

Menurut Rizal, salah satu cara yang paling ampuh untuk bisa mengatasi kondisi buruk ekonomi adalah dengan mengurangi defisit current account dan impor.

Rizal mengatakan pemerintah Jokowi seharusnya berani melaksanakan kebijakan anti-dumping dengan menerapkan bea masuk 25 persen terhadap baja dan turunannya. Sehingga, Rizal mengatakan, dirinya yakin Krakatau Steel akan untung lagi karena produksi baja dalam negeri naik.

"Katanya pemerintah sekarang dekat dengan China. Lobi dong Xin Jin Ping minta kurangin impor baja. Bilang kalau Indonesia krisis, China juga bisa kena," ujar Rizal. (sah/yns)