Sebut Sistem Jokowi Bodoh, Kubu Prabowo Ungkap Ekonomi Cerdas

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 23:33 WIB
Sebut Sistem Jokowi Bodoh, Kubu Prabowo Ungkap Ekonomi Cerdas Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, menyebut sistem Joko Widodo sebagai economic of stupidity. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean, menjelaskan ekonomi cerdas sebagai tanggapan atas sistem Joko Widodo yang dianggap bodoh.

Anggapan bodoh itu disampaikan Prabowo ketika menyebut sistem Jokowi sebagai economic of stupidity dalam pembekalan di Rakernas LDII pada Kamis (11/10).

Ferdinand menjelaskan bahwa pemerintah sekarang seharusnya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) karena harga minyak mentah tinggi dan dolar mahal.
Namun karena pencitraan, kata dia, pemerintah enggan menaikkan harga BBM meski telah mencabut subsidi.


"Kalau pinter ekonomi gini yah, kenaikan BBM menurut saya hitungan secara ekonomi BBM ini memang harus naik karena sekarang crude tinggi harganya 85 per barel," ucap Ferdinand usai diskusi di Jakarta, Jumat (12/10).

Melanjutkan penjelasannya, Ferdinand berkata, "Dolar juga sangat tinggi, harga BBM premium sesuai PP 191 tentang tata cara penghitungan harga BBM, sesuai hitungan presiden BBM, sekarang seharusnya Rp9 ribuan (per liter) dan pemerintah tidak beri subsidi."

Menurut Ferdinand, hasil kebijakan itu membuat Pertamina harus merogoh kocek untuk menyubsidi harga BBM premium.
Pemerintah disebutnya mempermainkan BUMN dan menganggu keuangan yang disusun Pertamina karena kebijakan itu.

Ferdinand mengatakan jika BBM tidak dinaikkan, nilai tukar rupiah tak akan menguat. Bahkan dia menyebut mungkin akan sampai di level Rp16 ribu per dolar.

"Ini pasar melihat kita sedang tidak punya kemampuan, jadi kalau tidak dinaikan harga BBM ya jangan jaget kalau dolar akan terus melambung sampai mungkin Rp16 ribu bukan khayalan," katanya.

Ferdinand menyimpulkan bahwa sistem ekonomi yang pintar harusnya mampu mengerem kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar. (kst/has)