Analisis

Kampanye Sandi, Upaya Menambal Elektabilitas Mentok Prabowo

Tim, CNN Indonesia | Senin, 15/10/2018 20:23 WIB
Kampanye Sandi, Upaya Menambal Elektabilitas Mentok Prabowo Calon wakil presiden nomor urut 2, Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi sentra penjualan batik pada hari batik nasional di Thamrin City, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon wakil presiden Sandiaga Uno lebih aktif berkampanye dibanding pasangannya, calon presiden Prabowo Subianto. Agresivitas Sandi dinilai sebagai upaya mendongkrak elektabilitas Prabowo yang sudah mentok.

Salah satu parpol pengusung Prabowo, Partai Demokrat melalui wakil sekjennya, Andi Arief menyinggung cara berkampanye Prabowo yang cenderung pasif.

"Ini otokritik: Kalau dilihat cara berkempanyenya sebetulnya yang mau jadi Presiden itu @sandiuno atau Pak Prabowo ya. Saya menangkap kesan Pak Prabowo agak kurang serius ini mau jadi Presiden," kicau @AndiArief_, Jumat (12/10).



Pernyataan Andi Arief itu lantas direspons Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Ferdinand Hutahaean yang membenarkan bahwa Sandiaga lebih aktif turun ke daerah-daerah ketimbang Prabowo.

Pasalnya, selain Sandi lebih muda, tim sukses Prabowo tak ingin sembarang berkeliling tanpa strategi meraih suara.

"Untuk saat ini, Pak Sandiaga Uno kan lebih muda lebih mobile target pemilihnya juga emak-emak dan anak muda yang mau digarap tentu Sandiaga Uno lebih banyak," kata Ferdiand.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai strategi dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno itu sudah tepat mengandalkan Sandiaga ketimbang Prabowo.


Sebab, kata dia, citra Sandiaga dapat diandalkan sebagai strategi untuk mendongkrak elektabilitas Prabowo yang sudah mentok dalam beberapa survei terakhir.

"Prabowo sedang mencoba menjalankan strategi mengkapitalisasi wakilnya ini. Jadi, Sandi lebih diharapkan bisa menambal elektabilitas Prabowo yang sudah mentok dalam beberapa survei terakhir," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com Senin (15/10).

Kampanye Sandi, Upaya Menambal Elektabilitas Mentok PrabowoCalon presiden Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Menurut Adi, sepanjang 2017 hingga 2018, elektabilitas yang dimiliki Prabowo cenderung stagnan bahkan menurun.

Lembaga survei SMRC mencatat sejak Mei 2017 hingga survei terakhir pada September 2018, menunjukan elektabitas Prabowo Subianto cenderung menurun.

Prabowo dalam survei Mei 2017 mendapat raihan 37,2 persen, September 2017 mendapat dukungan sebesar 31,8 persen, lalu turun lagi di Desember 2017 27,1 persen.

Kemudian, Januari 2018 mendapat dukungan 24,8 persen, sempat naik pada Mei 2018 menjadi 33,3 persen, namun kembali turun pada September menjadi 28,7 persen.

"Jadi itu adalah angka [Prabowo] yang di tahun ini enggak bergerak, itu artinya di angka 33 persen saja mentok, jadi caranya gimana biar naik? Ya, andalkan Sandiaga," kata dia.


Selain itu, Adi menyatakan Sandiaga memiliki citra yang lebih segar di mata masyarakat ketimbang Prabowo yang telah tiga kali mengikuti perhelatan pilpres belakangan ini.

Ditambah lagi, Sandiaga mampu memainkan citranya di kalangan pemilih perempuan dan pemilih muda sembari menjual isu perbaikan ekonomi di tiap kampanyenya.

"Kan, Sandiaga dicitrakan sebagai orang muda, paras rupawan, apalagi Sandi misalnya jualan isu ekonominya, jualan the power of emak-emak, itu bisa ditangguhkan," kata Adi.
Kampanye Sandi, Upaya Menambal Elektabilitas Mentok PrabowoPasangan capres-cawapres Prabowo dan Sandiaga Uno mengikuti Pawai Deklarasi Pemilu Damai. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Prabowo Atur Energi Politik dan Logistik

Selain itu, Adi menilai Prabowo sedang mengatur energi politik dan energi logistiknya yang terbatas untuk tampil lebih banyak ke publik.

Hal itu tak lepas dari prinsip politik yang membutuhkan dukungan koalisi parpol dan dukungan logistik ketimbang hanya sekadar mengandalkan kompetensi dan kapasitas kandidat.

"Nah, tentu Prabowo sedang berhitung banget. Dalam banyak hal kalah, dukungan politik berupa parpol kalah, elektabilitas kalah, logistik terbatas, pokoknya hampir semua kalah," kata Adi.

"Mungkin berkaitan dengan logistik, mungkin saja terkuras habis logistiknya. Sehingga dia enggak seagresif dulu," tambahnya.


Saat ini Prabowo-Sandi hanya didukung oleh empat partai politik, yakni Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat di Pilpres 2019.

Berbeda dengan koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin yang didukung oleh sembilan parpol di Pilpres.

Melihat hal itu, Adi memprediksi Prabowo bakal lebih sering tampil di publik jelang masa akhir kampanye.

Ia pun menganggap wajar jika di awal masa kampanye saat ini Sandiaga lebih banyak diekploitasi untuk mengangkat elektabilitas Prabowo.

"Intinya kalau dalam beberapa bulan survei Prabowo naik, itu karena upaya Sandiaga," kata dia.
(rzr/pmg)