Padahal, kata dia, penyelesaian kasus HAM itu masuk dalam salah satu janji Nawacita Jokowi. Baginya, pemerintahan Jokowi justru menghidupkan kembali developmentalism Orde Baru.
"Artinya presiden lebih mementingkan agenda ekonomi pembangunan di atas agenda lain. Agenda HAM dianggap tidak penting," ujar Usman, dalam Aksi Kamisan, di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/10) sore.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap abai terhadap agenda HAM itu, lanjut Usman, diperparah dengan bentuk-bentuk pelanggaran HAM baru yang secara tak langsung justru dimunculkan oleh pemerintah.
Menurutnya, faktor yang memengaruhi kemerosotan indeks itu adalah dari permasalahan keberagaman di Indonesia yang semakin buruk.
Alasan ini merujuk dari hasil riset Economist Intelligence Unit yang juga menyebut kasus penistaan agama yang menjerat mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di tengah pemilihan gubernur DKI pada 2017.
Menurut Usman, Jokowi perlu mengevaluasi janjinya untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Upaya yang dapat ditempuh salah satunya dengan memastikan pertanggungjawaban TNI/polri dalam menyelesaikan masalah tersebut.
"Selama ini tidak terlaksana dengan baik. Empat tahun Jokowi-JK bisa dikatakan masa yang kosong akan keadilan," ucapnya.
(pris/arh)