DPR Minta Pesawat Lion Air Berhenti Terbang Sebelum Diaudit

CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 03:36 WIB
DPR Minta Pesawat Lion Air Berhenti Terbang Sebelum Diaudit Anggota Komisi V DPR Ridwan Bae. (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Komisi V DPR RI Ridwan Bae menyebut perlu ada audit menyeluruh terhadap Lion Air akibat insiden jatuhnya pesawat dengan nomor penerbangan JT-610. Pesawat yang kondisinya diragukan didorong untuk tak terbang.

Ridwan berpendapat hanya maskapai yang terbukti kelayakannya yang diperbolehkan terbang.

"Kalau saya berpendapat bahwa sebaiknya diaudit dulu secara menyeluruh. Dan setelah diaudit dalam artian kalau bisa dihentikan secara menyeluruh. Yang layak saja yang bisa diterbangkan. Yang diragukan semua harus ditinggalkan," jelasnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (30/10).


Indikasi kelalaian itu, kata Ridwan, pesawat yang masih terbilang baru.

"Baru dua bulan dioperasikan di Indonesia, jadi semua orang kaget dan tanda tanya pada saat ini," kata dia.

Jika terbukti ada kelalaian, Ridwan menyebut soal potensi pencabutan izin Lion Air dan pemeriksaan terhadap pihak terkait, termasuk pemerintah.

Lion Air jenis Boeing 737 MAX-8, pada 13 Agustus 2018.Lion Air jenis Boeing 737 MAX-8, pada 13 Agustus 2018. (Dok. Lion Air)
"Dan kalau didapatkan [pelanggaran] harus dilakukan tindakan. Tindakannya tidak setengah-setengah. Kalau itu memang didapatkan merugikan masyarakat Indonesia pemakai penerbangan ini, maka ya harus cabut izin, jangan ragu-ragu. Ini buat keselamatan bangsa dan keselamatan masyarakat Indonesia," ujar Ridwan.

Menurutnya, Pemerintah mesti memberi tindakan tegas kepada pihak terkait. Hal ini terkait dengan keyakinan masyarakat terhadap jaminan keselamatan pada moda transportasi ini.

"Tapi kalau orang sudah takut seperti ini, bagaimana mungkin? Setiap orang naik pesawat pasti ketakutan duluan," tandas dia.

Sebelumnya, Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait mengatakan pesawat JT-610 diterima perusahaannya pada 13 Agustus 2018 lalu. Terbang pertama secara komersial pada 15 Agustus 2018. Ia pun menjamin pesawat tersebut adalah generasi terbaru dari Boeing generasi 737 max seri ke-8.

Ia sendiri belum bisa berkomentar soal penyebab kecelakaan itu. Pihaknya terbuka untuk bekerjasama dengan penyelidik.

"Kita tidak mau spekulasi. Ada pihak terkait yang bisa menyelidiki, kita siap kasih data," ungkap Edward.


Pesawat Lion Air itu diketahui hilang kontak pada pukul 06.33 WIB. Tak berselang lama, pesawat dikonfirmasi ditemukan di koordinat 05 46.15 S - 107 07.16 E atau di perairan Karawang, Jawa Barat. Pesawat tersebut berpenumpang 189 orang, termasuk awak pesawat.

(ain/arh)