ANALISIS

Menyoal Isu Orba Titiek Soeharto di Pilpres 2019

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Sabtu, 17/11/2018 08:15 WIB
Menyoal Isu Orba Titiek Soeharto di Pilpres 2019 Titiek tiba-tiba berkicau agar Indonesia kembali seperti era Kepresidenan Soeharto, namun itu dinilai hanya upaya melihat respons publik jelang pemilu. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kicauan media sosial Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto menjadi sorotan publik beberapa waktu belakangan. Pasalnya, dalam akun Twitter pribadinya, putri Presiden kedua RI, mendiang Soeharto, itu melontarkan kalimat yang menyinggung orde baru, era kepemimpinan ayahnya.

"Sudah cukup... Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional dan dikenal dunia," demikian kicauan Titiek lewat akun media sosial Twitter @TitiekSoeharto yang diunggah pada Rabu, 14 November 2018.

Kicauan Titiek itu memicu beragam reaksi. Ada yang mendukungnya, ada pula yang mempertanyakannya bahkan mencemooh.


Beberapa akun medsos lantas mengaitkan pernyataan ini dengan dukungan politik Titiek bersama Partai Berkarya pada pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Era Orde Baru dinilai bakal kembali jika Prabowo Subianto - Sandiaga Uno kelak terpilih.


Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing menilai penggunaan citra Soeharto di kubu Prabowo masih patut dipertanyakan.

Pasalnya masyarakat sadar di bawah kepemimpinan Soeharto, demokrasi di Indonesia justru mengalami kemunduran. Harus diakui, butuh perjuangan dan pengorbanan berat di akhir era 1990-an untuk menghentikan rezim Orba.

"Setelah orde baru masuk ke reformasi, meski banyak kelemahan, tapi kita akui bahwa demokrasi setelah orde baru lebih diminati," kata Emrus saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (16/11)..

Karena itu menurutnya isu keberhasilan Soeharto dengan Orba nya sulit digunakan untuk menarik simpati warga untuk memilih Prabowo.


Menyoal Titiek yang Ingin Indonesia Kembali ke Era SoehartoSoeharto saat menyampaikan pidato berhenti dari jabatan Presiden RI di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, 19 Mei 1998. (REUTERS)
Menurut Emrus, Soeharto bukan tanpa prestasi. Ada catatan positif selama Presiden ke-2 RI itu memimpin. Misalnya mengenai penanaman nilai-nilai Pancasila. Secara substansial, katanya, penanaman nilai Pancasila itu diterapkan dengan baik. Hanya saja saat itu Soeharto menggunakan metode doktrinisasi untuk memberikan kepentingan politik padanya.

Emrus mengatakan, jika saat ini Titiek bisa memformulasikan kembali penanaman nilai-nilai Pancasila dan mewacanakannya kepada publik, bukan tidak mungkin akan direspons positif dari masyarakat.

"Prinsip nilainya diambil, tapi metodenya berubah. Tidak penataran P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Tetapi dialektika, diskusi, pembahasan di ruang publik dan terbuka," kata dia.

Sementara itu Pengamat politik Populi Center, Usep S Ahyar menilai pernyataan Titiek itu seperti tengah sedang membaca situasi politik saat ini. Melalui cara ini, kata Usep, Titiek ingin tahu bagaimana publik merespons sosok ayahnya.

Kemudian, hasil pencermatan ini menjadi referensi dalam menentukan strategi dan isu yang bisa dikembangkan tim kampanye calon presiden-wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Ini test the water. Ngetes suhu air. Bagaimana sih tanggapan orang terhadap orde baru, kembali ke orde baru," kata Usep.

Berbeda dengan Emrus, Usep menilai isu politik dengan menggunakan citra Soeharto masih bisa digunakan dalam pemilu kali ini. Pasalnya, banyak warga yang merupakan pemilih baru tidak mengetahui secara utuh cerita mengenai dinamika sosial dan politik yang terjadi selama masa orde baru.

"Masyarakat juga sudah melupakan cerita orde baru. Sudah banyak dilupakan bagaimana orde baru memerintah secara otoriter, kemudian menculik dan melakukan segala macam. Orang-orang sudah tidak ngeh lagi dengan itu atau sudah lupa," kata Usep.

Lebih jauh lagi, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga saat ini masih beredar di masyarakat. Melihat sejarahnya, PKI pernah dihabiskan pada era kepemimpinan Soeharto. Dengan racikan yang tepat, maka isu politik dengan mencitrakan keberhasilan Soeharto dalam memimpin masih bisa diterima sejumlah masyarakat.

"Ancaman PKI, itu kan yang dipakai oleh Orde Baru sehingga bagaimana ia bercokol selama 32 tahun. Dengan menghidupkan ancaman PKI, makanya dia (Soeharto) bertahan," kata Usep.



Menyoal Titiek yang Ingin Indonesia Kembali ke Era Soeharto

(fhr/kid)