ANALISIS

Motif di Balik Pembunuhan, dari Ekonomi Hingga Komunikasi

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 09:30 WIB
Motif di Balik Pembunuhan, dari Ekonomi Hingga Komunikasi Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi oleh pelaku Haris Simamora. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga kasus pembunuhan menyita perhatian masyarakat dalam dua pekan terakhir. Kasus pertama, pembunuhan satu keluarga yang dilakukan Haris Simamora (23) di Bekasi, Jawa Barat pada pada Senin (12/11).

Berdasarkan penyidikan, Haris melakukan pembunuhan karena dendam dengan korban yang merupakan keluargnya karena sering memarahinya.

Selanjutnya, kasus pembunuhan Abdullah Fithri Setiawan (43) atau yang biasa dipanggil Dufi oleh M Nurhadi (35). Aksi pembunuhan dilakukan dengan menaruh jenazah korban di dalam sebuah drum plastik berwarna biru di kawasan industri Kembang Kuning, Kampung Narogong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Minggu (18/11). Motif dari kasus pembunuhan ini belum diketahui hingga saat ini.


Kemudian, kasus pembunuhan seorang perempuan berinisial CIP di rumah indekos kawasan Tegal Parang Mampang, Jakarta Selatan yang melibatkan pria berinisial YAP dan R. Jenazah CIP ditemukan penjaga rumah indekosnya di dalam sebuah lemari pakaian pada Selasa (20/11) sekitar pukul 13.20 WIB.

Pembunuhan diduga dilatarbelakangi faktor ketersinggungan setelah korban menilap uang tip yang seharusnya diberikan kepada salah satu terduga pelaku.


Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan mayoritas penyebab kasus pembunuhan terjadi adalah masalah antara pelaku dengan korban.

Menurutnya, interaksi yang terjalin tersebut menjadi masalah karena menimbulkan sakit hati, dendam, atau menyinggung perasaan sehingga pelaku nekat membunuh korban.

"(Mayoritas) itu rata-rata karena interaksi antara korban dengan tersangka (terkait) masalah personal (menimbulkan) sakit hati, dendam, tersinggung, dan lain-lain," kata Dedi di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan pada Kamis (22/11).

Menurutnya, motif pembunuhan yang dilatarbelakangi masalah interaksi antara pelaku dan korban semakin banyak ditemukan oleh polisi walaupun jumlah total kasus pembunuhan mengalami tren penurunan di 2018 ini.

Dia menuturkan, jumlah pembunuhan yang tercatat terjadi hingga Oktober 2018 ini adalah 625 kasus, di mana 574 kasus terungkap setelah polisi melakukan serangkaian proses penyidikan.

"Tahun 2017 totalnya 783, terungkap 773. Tahun 2016 totalnya 1.197, terungkap 1.156," ucap jenderal bintang satu itu.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan kasus pembunuhan yang terjadi dalam beberapa terakhir ini membuat masyarakat menjadi cemas dan khawatir.

"Menjadi teror bagi masyarakat," kata Neta kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/11).

Motif di Balik Pembunuhan, dari Ekonomi Hingga Komunikasi Haris Simamora, tersangka pembunuhan satu keluarga di Bekasi dihadirkan pihak polisi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 16 November 2018. (CNN Indonesia/Safir Makki)


Apalagi dari ketiga kasus pembunuhan tersebut, Neta berpendapat aksi pembunuhan terlihat begitu mudah dilakukan oleh para pelaku. "Jelas masyarakat cemas dan khawatir," ujarnya.

Ia menilai salah satu faktor yang membuat orang nekat melakukan aksi pembunuhan adalah faktor ekonomi. Menurutnya, faktor ekonomi mengakibatkan seseorang menjadi mudah tertekan hingga akhirnya melakukan aksi kriminal.

"Pelaku nekat menghabisi nyawa korban yang sesungguhnya dia kenal dekat, tekanan ekonomi membuat pelaku gampang kalap," tutur Neta.

Kriminolog Universitas Indonesia Iqrak Sulhin mengatakan umumnya penyebab aksi pembunuhan terjadi karena masalah interpersonal atau masalah antarpribadi. Bentuk masalah itu, kata Iqrak, bisa dendam, sengketa, maupun masalah lainnya.

"Selama ini penelitian memperlihatkan pembunuhan dominan terjadi karena adanya masalah interpersonal," kata Iqrak kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/11).

"Tidak ada pembunuhan dilakukan oleh orang asing, kecuali pelaku mengalami permasalaham mental," imbuhnya.

Motif di Balik Pembunuhan, dari Ekonomi Hingga Komunikasi M Nurhadi, tersangka pembunuh Abdullah Firi alias Dufi. Ia bekerja sama dengan istrinya, Sari, membunuh Dufi guna merampok. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)

Meski begitu, Iqrak menyebut persoalam interpersonal biasanya berujung pada aksi pembunuhan berencana. Namun, pembunuhan secara spontan juga bisa dilandasi motif persoalan interpersonal.

"Bisa saja ada yang dilakukan spontan di tempat saat cek cok terjadi," ujarnya.

Iqrak menuturkan soal aksi pembunuhan yang dilakukan spontan akan bergantung pula pada kondisi di lokasi kejadian, terutama terkait dengan alat yang digunakan dalam melakukan aksinya.

Perlakuan terhadap korban setelah aksi, sambung Iqrak juga tergantung pada situai yang ada. "Bisa saja dilakukan untuk menyembunyikan sementara atau upaya untuk menghilangkan bukti," ucapnya.


Iqrak menyampaikan biasanya pelaku pembunuhan dengan motif permasalahan interpersonal merupakan seseorang yang baru pertama kali melakukan pembunuhan.

Ia berpendapat orang yang pernah mendapat hukuman atau residivis jarang melakukan aksi pembunuhan dengan motif sepert itu. Kecuali, konteksnya terjadi dalam konteks ganh kejahatan.

Iqrak menjelaskan dalam motif interpersonal, pelaku biasanya membuat penilaian tersendiri terhadap tingkat permasalahan yang dihadapinya, termasuk soal solusi penyelesaiannya.

Jika komunikasi antara pelaku dan korban berjalan dengan baik, maka permasalahan sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik.

Namun, kata Iqrak, saat ini pola interaksi atau pola komunikasi masyarakat telah mengalami perubahan.

Ia mencontohkan dengan kesibukan masyarakat saat ini, kerap kali proses komunikasi berjalan kurang baik.

"Karena kesibukan, sesama tetangga jarang bertemu, demikian pula dengan sesama saudara, interaksi cenderung menjadi formal dan seperlunya. Padahal frekuensi dan kualitas interaksi adalah hal sederhana yang dapat digunakan untuk berbincang sebuah masalah dengan lebih baik," tuturnya.

Motif di Balik Pembunuhan, dari Ekonomi Hingga Komunikasi Suasana di rumah kos Mampang, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/11/2018).Pada 20 November 2018 terjadi kasus pembunuhan di rumah kos di kawasan Mampang Prapatan. (CNN Indonesia/Harvey Darian)

Lebih dari itu, Iqrak mengatakan sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjawab secara rinci terkait apa apa yang menjadi pemicu masalah interpersonal.

Tapi, Iqrak berpendapat, faktor pendidikan berkontribusi mempengaruhi seseorang dalam menemukan solusi penyelesaian masalah yang dihadapi.

"Bisa saja faktor pendidikan membuat definisi situasi seseorang mengenai sebuah persoalan menjadi sangat sempit, demikian pula dengan penyelesaiannya," katanya.

(dis/ugo)