Yahya Staquf Kunjungi Ma'ruf, Bahas Munas Hingga Pascapilpres

CNN Indonesia | Senin, 07/01/2019 14:54 WIB
Yahya Staquf Kunjungi Ma'ruf, Bahas Munas Hingga Pascapilpres Yahya Staquf mengunjungi kediaman Ma'ruf Amin guna membahas banyak hal, di antaranya Munas Alim Ulama PBNU hingga rekonsiliasi pascapilpres. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chatib Aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf bertemu dengan calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin di kediaman pribadi Ma'ruf, Menteng, Jakarta, Senin (7/1). Yahya terpantau keluar dari rumah Ma'ruf sekitar pukul 13.00 WIB. Ia datang mengenakan baju hitam dilengkapi peci hitam.

Yahya menyatakan kedatangannya untuk membahas dan meminta masukan Ma'ruf seputar musyawarah nasional alim ulama yang akan digelar pada Februari 2019 esok di Banjar, Jawa Barat.

"Karena tidak lama lagi, insyallah pada bulan Februari, Nadhatul Ulama menggelar konferensi besar dan Musyawarah Nasional alim ulama. Sejumlah hal perlu di dialogkan dengan berbagai pihak. Dan dengan hal ini, Kiai Ma'ruf Amin adalah seseorang yang tidak boleh tidak harus diminta pandangan-pandangan dan nasihat beliau," kata Yahya.



Lebih lanjut, Yahya menyatakan akan mengundang Ma'ruf dalam Munas Alim Ulama untuk berdialog dengan para peserta.

Tak hanya itu, Munas itu nantinya akan membahas mengenai Rancangan Undang-undang (RUU) Pesantren yang sedang di godok di DPR dan beberapa isu krusial kenegaraan lainnya.

"Dan sebagaimana tadi disinggung tentang rancangan undang-undang yang sekarang diproses. Dalam musyawarah nanti akan dibahas isu-isu penting yang terkait aturan kenegaraan salah satunya soal pendidikan pesantren," kata dia.


Selain itu, Yahya turut mengatakan bahwa kunjungannya ke kediaman Ma'ruf sekaligus untuk membahas strategi rekonsiliasi pascapilpres 2019. Menurutnya, di tiap perhelatan Pemilu, baik Pilpres maupun Pilkada belakangan ini selalu mengakibatkan polarisasi di masyarakat.

"Supaya nanti apapun hasilnya, dari kompetisi politik itu. Harus menjadi milik bersama. Itu yang menjadi pandangan yang paling mendasar yang harus diperhatikan," kata dia.

Di tempat yang sama, Ma'ruf menyatakan rekonsiliasi pascapilpres mutlak dibutuhkan. Ia menyatakan keutuhan bangsa dan bernegara wajib diutamakan ketimbang kepentingan apapun.

"Karena itu mungkin ekses negatif akibat pemilu pilpres itu sudah harus berakhir sampai terpilihnya masing-masing kandidat. Baik legislatif eksekutif begitu selesai maka perbedaan perselisihan selesai," kata dia.

(rzr/ain)