Guntur Romli, salah seorang juru bicara PSI, menuturkan bahwa ada perbedaan antara perda syariah dan nilai syariah. Menolak perda syariah bukan berarti menolak nilai syariah.
"Syariah itu dari Allah, dari Tuhan, enggak boleh direvisi enggak boleh dibatalkan, tapi perda syariah itu buatan manusia, dia bisa salah, dia bisa dibatalkan, bisa ditolak karena dalam level peraturan," kata Guntur saat ditemui di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Senin (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan PSI ini menanggapi ucapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy pada Minggu (6/1). Romy mengatakan bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan undang-undang yang berasaskan nilai-nilai syariah di DPR. Romi bahkan mengatakan siap berhadapan dengan pihak-pihak yang akan menghalangi niat tersebut.
Romi justru menganggap pihak yang tidak setuju dengan undang-undang bernuansa syariah sama dengan mengabaikan sejarah.
Terkait hal ini, Guntur tak mempersoalkan sikap PPP. Namun ia menekankan bahwa PSI juga punya hak untuk mengambil sikap dalam perda syariah.
"PSI juga punya sikap sendiri karena PSI berdasarkan suara-suara masyarakat, suara NGO, lembaga negara yang sudah mengatakan peraturan-peraturan berbasis agama tertentu itu diskriminatif," imbuhnya.
Menanggapi ucapan Roem ini, PSI meyakininya sebagai pendapat pribadi. Mereka menampik tindakan mereka dengan menggelar 'Kebohongan Awards' membuat kegaduhan di tubuh koalisi.
"Misalnya untuk gerakan antihoaks, Kebohongan Awards ini dipuji oleh Bang Karding, bilang bahwa ini bentuk kreativitas parpol. PDIP juga bilang ini bentuk sindiran kepada pemberi hoaks, jadi enggak ada dari koalisi yang komplain kecuali kemarin Golkar menyebut kita sebagai partai yang menimbulkan kegaduhan dengan ini," pungkas juru bicara PSI lainnya, Dara Adinda Kesuma Nasution. (bin/wis)