Ahok dan Eksistensi Tak Berhenti di Balik Bui

CNN Indonesia | Rabu, 23/01/2019 09:05 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama menjalani masa hukuman kasus penodaan agama di Rumah Tahanan Cabang Salemba di Markas Korps Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tak kehilangan sorotan media. Sejumlah manuver dan insiden membuat namanya tetap berkibar dari balik jeruji besi.

Apapun yang disampaikan melalui timnya di akun media sosial kerap jadi santapan media untuk dijadikan sumber pemberitaan. Belum lagi perkara rumah tangganya soal perceraian yang jadi konsumsi publik.

Ahok divonis pada 9 Mei 2017. Kemudian 12 hari setelahnya, Ahok melalui akun Instagramnya menyatakan menerima keputusan pengadilan tersebut. Ia mengucapkan terima kasih atas segala dukungan yang diberikan.


Ahok juga menarik perhatian saat memutuskan untuk mencabut permohonan banding atas vonis 2 tahun penjara itu, pada 24 Mei 2017. Alasannya, demi kebaikan bangsa dan negara. Ia juga mengklaim sudah memaafkan semua orang yang memusuhinya.

Selain itu Ahok juga kerap mengirim surat untuk para pendukungnya kemudian mengunggahnya ke Instagram melalui timnya. Pada momen-momen hari besar seperti Idul Fitri atau ada peristiwa besar, Ahok juga turut mengomentari.

Awal Januari 2018, publik dikejutkan dengan pendaftaran gugatan cerai Ahok terhadap istrinya, Veronica Tan, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Adik kandung sekaligus kuasa hukum Ahok, Fifi Lety Indra, bercerita bahwa persoalan rumah tangga kakaknya sudah berlangsung selama tujuh tahun, dipicu oleh orang ketiga bernama Julianto Tio.

Selain menggugat cerai, Ahok juga menuntut hak asuh ketiga anaknya hasil pernikahannya dengan Veronica. Dalam proses persidangan, Veronica tak pernah hadir.

Veronica Tan diceraikan oleh Ahok akibat isu pihak ketiga.Veronica Tan diceraikan oleh Ahok akibat isu pihak ketiga. (AFP PHOTO/GOH CHAI HIN)

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan soal gugatan cerai pada istrinya, Ahok mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kasus penodaan agama yang menjeratnya, 2 Februari 2018. Upaya banding tingkat akhir itu kandas di tangan Artidjo Alkostar, hakim yang dikenal kerap memperberat vonis di kasus korupsi itu, 26 Maret 2018.

Pada pertengahan 2018, Ahok berjanji memberikan kejutan dari balik sel. Publik geger menanti kejutan Ahok. Berbagai media massa memberitakan dan mencari tahu kejutan apa yang bakal diberikan Ahok.

Tepat pada 6 Mei 2018, kejutan itu terjawab. Mantan Bupati Belitung tersebut meluncurkan sebuah buku yang ia tulis dari penjara. Buku setebal 331 halaman berjudul 'Kebijakan Ahok' itu berisi pemikiran Ahok soal kebijakan publik serta beberapa kebijakan Ahok selama menukangi Ibu Kota.

Setelah peluncuran itu, Ahok kembali mengejutkan publik. Ia menyentil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membesar-besarkan dana kompensasi pengelolaan sampah dengan Pemkot Bekasi.

Mengutip buku 'Kebijakan Ahok', Ahok menyebut dana kompensasi yang diterima Pemkot Bekasi setelah dilakukan kontrak tambahan atau addendum adalah Rp143 miliar per tahun. Dana itu untuk kompensasi dampak lingkungan karena Jakarta menumpang buang sampah di Bantargebang.

"Sebelumnya addendum Rp63 miliar menjadi Rp143 miliar per tahun," kata Ahok lewat akun Twitter @basukibtp, 22 Oktober 2018.

Aktor Daniel mananta yang memerankan Ahok dalam film 'A Man Called Ahok'.Aktor Daniel Mananta yang memerankan Ahok dalam film 'A Man Called Ahok'. (Dok. The United Team of Art via Youtube)
Selain lewat buku, Ahok juga menyedot perhatian publik dengan sebuah film berjudul 'A Man Called Ahok'. Film ini sudah jadi perbincangan publik sejak diumumkan pada 5 September 2018.

Film yang dibintangi Daniel Mananta itu bercerita soal perjalanan politik Ahok; mulai dari merintis bisnis, hingga menduduki posisi Bupati Belitung Timur. Film 'Ahok' ditonton oleh 1.465.145 orang menurut catatan situs filmindonesia.or.id.

'A Man Called Ahok' pun sempat membangkitkan fenomena terpecahnya publik menjadi dua kubu politik di media sosial. Sebab, pada saat yang bersamaan tayang 'Hanum & Rangga (Faith and the City)'.

Film yang diangkat dari buku karya Rudi Valinka dengan judul yang sama itu dianggap sebagai representasi pendukung Jokowi dan Ahok. Sementara Film 'Hanum & Rangga' dianggap mewakili kubu Prabowo karena Hanum merupakan anak tokoh oposisi, Amien Rais.

Gejala ini pun dikritisi oleh sineas Joko Anwar. Baginya, film tak seharusnya menjadi alat untuk melakukan perundungan secara politik. Terlebih, ada ratusan orang dengan latar belakang pilihan politik berbeda yang terlibat dalam pembuatan film. (dhf/sur)
1 dari 2