Tak Efisien, JK Kritik Pembangunan LRT Palembang

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 14:31 WIB
Tak Efisien, JK Kritik Pembangunan LRT Palembang Wakil Presiden Jusuf Kalla. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kembali mengkritik pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Indonesia.

Setelah mengkritik pembangunan LRT Jakarta beberapa waktu lalu, kali ini JK mengkritik pembangunan LRT di Palembang, Sumatera Selatan yang digunakan untuk perhelatan Asian Games 2018.

Menurut dia, pembangunan LRT di Palembang itu tak efisien.


"Sekarang LRT Palembang itu turis lokal datang coba satu kali sudah selesai," ujar JK saat memberikan sambutan dalam acara 'Indonesia Development & Business Summit' di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (22/1).

JK mengatakan pembangunan transportasi di daerah mestinya dikaji dengan matang agar memberi manfaat lebih dari aspek teknis maupun ekonomis. Jika tidak, pembangunan LRT itu hanya akan membuat pemerintah merugi.

"Ini tanggung jawab kita semua untuk melihat itu sebagai bagian dari evaluasi. Jadi (jangan hanya) meningkatkan infrastruktur, tapi juga manfaatnya bagaimana," katanya.

Selain LRT Palembang, JK juga mengkritik pembangunan jalur kereta api Trans Sulawesi yang mulai beroperasi sejak akhir 2018. JK mengatakan, pembangunan jalur kereta api di wilayah tersebut tak efisien seperti jalur kereta api di Pulau Jawa.

Sebab, jumlah orang dan barang yang akan diangkut di Sulawesi lebih sedikit ketimbang di Pulau Jawa. Ia menyebut jumlah penduduk di Pulau Jawa jumlahnya bisa mencapai 160 juta orang. Sementara di Sulawesi hanya sekitar 17 juta dengan jumlah delapan juta orang di antaranya berada di Sulawesi Selatan.

"Barang apa yang mau diangkut dari (Sulawesi) utara ke selatan, selatan ke utara? Enggak ada. Saya minta perpendek saja di Sulawesi untuk keperluan industri," kata JK. "Kereta api hanya efisien di Jawa karena penduduk 160 juta."

Kritik LRT Jakarta

JK kembali menjelaskan alasannya saat mengkritik pembangunan LRT Jakarta yang melayani jalur Jabodebek. JK menilai pembangunan LRT itu tak efisien karena berada di samping jalan tol.

"Akibatnya jalan tol tidak bisa diperlebar karena ada tiang di sampingnya," tutur JK.

Selain itu, biaya pembangunannya juga lebih mahal karena dibangun secara elevated atau melayang. Padahal dari rekomendasi Kementerian Perhubungan, kata JK, biaya pembangunannya 10 kali lipat lebih murah bila dibandingkan dengan pembangunan melayang.

"Ini juga bagaimana para insinyur kita memahami bukan sekadar membikin sesuatu tapi manfaat dan studinya harus baik," kata JK.

JK sebelumnya mengkritik pembangunan LRT Jakarta yang menghabiskan biaya Rp500 miliar per kilometer karena dibangun di samping jalan tol.

Kritikan JK itu pun diakui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. Namun pihak Adhi Karya selaku penggarap proyek membantah dan menyebut biaya itu cukup rendah dibandingkan MRT di Singapura.

(psp/ugo)