Yasonna Beberkan Remisi untuk Terpidana Pembunuh Wartawan

CNN Indonesia | Rabu, 23/01/2019 12:59 WIB
Yasonna Beberkan Remisi untuk Terpidana Pembunuh Wartawan Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mengatakan kasus pembunuhan wartawan bukanlah kejahatan luar biasa. Nyoman Susrama, pembunuh wartawan di Bali berhak untuk mendapatkan remisi. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly buka suara terkait pemberian remisi perubahan kepada I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuh wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Yasonna menyatakan Susrama sudah menjalani hukuman penjara sekitar 10 tahun.

Yassona juga menyebut kasus pembunuhan wartawan bukan kejahatan luar biasa (extraordinary crime)

"Pertimbangannya, dia hampir sepuluh tahun, sekarang sudah sepuluh tahun di penjara," kata Yasonna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1).



Susrama divonis seumur hidup lantaran terbukti membunuh Prabangsa terkait kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Kasus pembunuhan jurnalis ini terjadi pada Februari 2009 silam.

Yasonna mengatakan pemberian remisi perubahan kepada Susrama sudah melawati pertimbangan mulai dari Lembaga Pemasyarakatan, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, hingga terakhir dirinya.

Menurut Yasonna, Susrama juga selama melaksanakan masa hukuman mengikuti pembinaan dengan baik, tidak pernah melakukan kesalahan, dan berkelakuan baik.

"Dia selama melaksanakan masa hukumannya, tidak pernah ada cacat, mengikuti program dengan baik, berkelakuan baik," ujarnya.

Yasonna meminta semua pihak tak melihat politis pemberian remisi perubahan kepada Susrama. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menyebut kasus yang menjerat Susrama bukan extraordinary crime atau kejahatan luar biasa.

"Dan itu bukan extraordinary crime, bukan jenis extraordinary crime. Yang penting bahwa dia sudah (menjalani hukuman) selama hampir sepuluh tahun," kata Yasonna.

Yasonna menjelaskan 'pengampunan' yang diberikan kepada Susrama bukan lah grasi, melainkan remisi perubahan berdasarkan ketentuan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 174 Tahun 1999 tentang Remisi. Saat ini, hukuman seumur hidup Susrama berubah menjadi 20 tahun penjara.

"Remisi perubahan, dari seumur hidup menjadi 20 tahun. Berarti kalau dia sudah 10 tahun tambah 20 tahun, 30 tahun, umurnya sekarang sudah hampir 60 tahun," tuturnya.

Lebih lanjut, Yasonna tak ambil pusing dengan kecaman yang disampaikan salah satunya dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar. Menurutnya, bila seorang narapidana sudah menjalani hukuman dan berkelakuan baik pantas diberikan remisi.

"Jadi jangan melihat sesuatu sangat politis. Jadi dihukum itu orang tidak dikasih remisi? Enggak muat itu Lapas semua kalau semua dihukum, enggak pernah dikasih remisi," kata Yasonna.

Susrama mendapat remisi bersama 114 narapidana lainnya yang berada di sejumlah Lapas. Remisi diberikan lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Berupa Perubahan Dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Penjara Sementara.

"Iya ada [Keppres itu], yang dapat remisi perubahan dari pidana seumur hidup ke pidana sementara sebanyak 115 orang," kata Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/1).

Ade menyatakan 115 narapidana yang mendapat remisi perubahan itu mendekam di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Namun, Ade menolak memberikan rincian nama narapidana yang mendapat 'pengampunan' dari orang nomor satu di Indonesia itu.

Ade menjelaskan remisi perubahan ini diberikan kepada narapidana yang divonis seumur hidup. Menurutnya, para narapidana yang mendapat hukuman seumur hidup akan berubah menjadi 20 tahun penjara.

(fra/ugo)