Pramono menyebut dari 3.165.093 data yang dilaporkan BPN, hanya sebanyak 2.673.855 data yang memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (NKK) yang lengkap. Dari jumlah itu, sekitar 2,5 juta tidak ditemukan di DPT Pemilu 2019.
"Kita terima laporan dari mereka, kita periksa by system, ditemukanlah bahwa sebenarnya dari 2,6 juta sekian tadi 2,5 juta tadi itulah kayak amuba, membelah diri membelah diri itu," kata Pramono dalam jumpa pers di Kantor KPU, Jakarta, Senin (15/4)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi 17,5 juta, tuntutan yang mengada-ada karena faktual itu orangnya ada, 98,5 persen dari data itu ada," ujar Pramono.
Lihat juga:KPU Janji Bereskan Persoalan DPT Bulan Ini |
Lalu ada 6,1 juta DPT ganda. Namun BPN hanya bisa menyerahkan 3,1 juta DPT diduga ganda ke KPU.
Terkait DPT janggal, Direktur Komunikasi dan Media BPN Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo, menyebut temuan itu didapat berdasarkan penyisiran Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Kedua (DPTHB2).
BPN mencatat ada 17.553.708 data pemilih mencurigakan. Adapun rinciannya, sebanyak 9.817.003 pemilih tercatat lahir pada tanggal 1 Juli, 5.377.401 lahir pada 31 Desember, dan 2.359.304 lahir di 1 Januari.
Hashim menyampaikan berdasarkan analisis tim IT dan statistik BPN, data itu tidak wajar.
"Pada hari-hari lain, rata-rata yang lahir 520 ribu orang ya. Terus tiba-tiba 1 juli 9,8 juta, 2 Juli 520 ribu lagi. Ini kan kita anggap tidak wajar," ucapnya. (dhf/wis)