Puluhan Massa Aksi Tahlil Akbar 266 di Bawah Umur

CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 10:48 WIB
Puluhan Massa Aksi Tahlil Akbar 266 di Bawah Umur Anak di bawah umur saat aksi tahlil akbar 266. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan orang yang ikut aksi Tahlil Akbar 266 di Bundaran Patung Kuda Monas, Jakarta berusia di bawah 17 tahun.

"Kami dari Cianjur, Jawa Barat, datang ke sini sekitar 25 orang," kata peserta aksi berinisial RJ (17) seperti dikutip Antara, Rabu (26/6).

Ia bersama rekannya yang lain masih berstatus pelajar di sebuah pesantren di Jawa Barat. RJ mengaku datang karena keinginan pribadi, bukan perintah dari orang-orang tertentu atau pesantren tempatnya menimba ilmu.


"Pesantren membolehkan. Saya ke sini tidak disuruh siapa-siapa, panggilan hati saja," kata RJ.


Ia dan rekan satu pesantren berangkat menuju Ibu Kota sejak Selasa (25/6) siang, menumpang pada truk-truk barang.

"Kami nebeng gratis, kami duduk di tengah (bak) truk," katanya.

Rekan RJ lainnya, AD (16) yang juga berasal dari Jawa Barat mengaku tahu ada aksi tersebut dari selebaran undangan Tahlil Akbar yang beredar di media sosial.

"Tidak ada yang menyuruh kami datang, ke sini karena panggilan hati, ingin imam besar Habib Rizieq Shihab bisa pulang ke Indonesia," ujarnya.


Sekretaris PA 212 Bernard Abdul Jabbar mengatakan acara itu diinisiasi tak hanya oleh pihaknya, tetapi juga oleh GNPF Ulama dan FPI serta Ormas Islam lainnya.

"Gabungan PA 212, GNPF Ulama, dan FPI dan ormas-ormas lain," ucap Bernard saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (25/6).

Berdasarkan poster yang beredar di media sosial, Tahlil Akbar 266 dilaksanakan untuk mendoakan petugas kelompok penyelenggara pemilihan umum (KPPS) yang meninggal dunia. Doa juga akan dipanjatkan untuk korban meninggal dunia pada 21-22 Mei.

Bernard membenarkan poster yang beredar di media sosial itu. Namun Bernard tidak menjelaskan secara rinci jumlah massa yang akan hadir dalam Tahlil Akbar 266. Dia hanya mengatakan massa tidak berasal dari Jabodetabek saja.

Sementara, Polda Metro Jaya telah melarang aksi di MK saat pembacaan putusan MK, 27 Juni 2019.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan, larangan itu berkaca dari aksi massa yang berakhir rusuh di depan Gedung Bawaslu pada 21-22 Mei.

[Gambas:Video CNN] (antara/DAL)