Dugaan Pungli, 6 Anggota Polres Empat Lawang Diperiksa

CNN Indonesia | Kamis, 05/09/2019 00:56 WIB
Dugaan Pungli, 6 Anggota Polres Empat Lawang Diperiksa Ilustrasi. (REUTERS/Beawiharta)
Palembang, CNN Indonesia -- Enam personel Polres Empat Lawang diperiksa terkait dugaan aksi pungutan liar (pungli) yang berujung bentrok dengan warga pada akhir Juli lalu.

Pemeriksaan tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) dan Ombudsman RI.

Kapolres Empat Lawang Ajun Komisaris Besar Eko Yudi Karyanto berujar pihaknya mendalami dugaan tersebut karena menyangkut kondisi keamanan di wilayah itu. Pihaknya memprioritaskan penyelidikan agar kondusifitas di Empat Lawang terus terjaga.


"Kita periksa 6 orang anggota kita, dari polsek dan polres. Ada juga diluar itu kita periksa dari unsur masyarakat. Hasil investigasi sementara, belum ditemukan indikasi pungli seperti yang dituduhkan segelintir warga itu. Pemeriksaan diperkuat dengan keterangan dari warga di sekitar proyek pembangunan jalan," ujar Eko, Rabu (4/9).

Dirinya berujar laporan mengenai dugaan pungli tersebut belum disertai bukti-bukti terkait serta saksi yang benar-benar mengetahui mengenai pungli. Apabila pelapor sudah bisa mendapatkan bukti, pihaknya terbuka untuk menerima laporan tersebut agar bisa segera ditindaklanjuti.

"Kita tidak ingin ini berlarut-larut. Jadi kalau ada bukti, segera berikan kepada kita. Kita jamin akan menindak tegas apabila benar ada oknum yang bermain seperti itu," kata dia.

Sementara itu terkait aksi penyerangan warga di dua lokasi di Empat Lawang, pihaknya telah menyerahkan berkas perkara 11 tersangka dari 15 orang yang sudah ditangkap. Sementara satu orang yang diduga merupakan otak dari penyerangan tersebut, HD, masih buron.

Eko mengklaim HD memprovokasi warga lalu membayar sekelompok orang untuk menyerang anggota polisi yang tengah dirawat di RSUD Tebing Tinggi usai penyerangan pertama yang terjadi di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang. HD pun membekali puluhan warga menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan dalam penyerangan tersebut.

Diberitakan sebelumnya, terdapat dua versi penyerangan di Empat Lawang. Polisi mengklaim bahwa penyerangan disebabkan oleh tersangka pengancaman yang menolak ditangkap dan menyebabkan dua anggota polisi terluka. Insiden tersebut berlanjut terhadap penyerangan di RSUD Tebing Tinggi dari warga yang tidak terima atas kejadian tersebut.

Namun versi Syarifudin (58), warga Desa Tanjung Raman yang meminta pendampingan KontraS, menyebutkan bahwa penyerangan terhadap anggota polisi berawal dari permintaan pungutan liar aparat kepolisian terkait proyek pembangunan jalan.

Menurutnya, polisi meminta jatah Rp30 ribu per angkutan batu dalam satu truk. Polisi lebih dari satu kali meminta jatah sejak proyek pembangunan jalan mulai sejak dua bulan sebelum peristiwa bentrokan terjadi.

KontraS bersama Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mendampingi warga Desa Tanjung Raman Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang untuk melaporkan dugaan tersebut ke Ombudsman RI.[Gambas:Video CNN] (idz/arh)