Cerita Pemilik Rumah Terhimpit Apartemen di Jantung Jakarta

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 11:54 WIB
Cerita Pemilik Rumah Terhimpit Apartemen di Jantung Jakarta Rumah warga bernama Lisa yang berada di tengah-tengah Thamrin Executive Residence, Jakarta (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah keluarga memilih bertahan dan tinggal di rumah yang dikelilingi gedung tinggi Jakarta. Rumah mereka ramai diperbincangkan lantaran berada di area apartemen Thamrin Executive Residence, Jakarta Pusat.

Posisi rumah berada di bagian belakang kompleks apartemen. Terletak di jalur keluar kendaraan dari apartemen.

Setengah bagian rumah itu tampak 'tenggelam' di bawah tanah. Jika melihat dari sudut berbeda, hanya tampak sebagian tembok serta atap berwarna merah yang terlihat sudah usang.


Rumah ini terlihat sepi ketika CNNIndonesia.com menyambanginya, Minggu (22/9).

Di bagian depan terdapat dua pasang sandal, helm, bangku plastik, serta belasan galon yang dibiarkan berserakan. Tembok rumah tampak kotor dan banyak sisi yang ditempati laba-laba dan sarangnya.

Melangkah menuju pintu masuk juga mesti hati-hati. Harus melalui jalur setapak yang terbilang curam.

CNNIndonesia.com lalu mengetuk pintu rumah beberapa kali. Tak ada respons. Hanya terdengar suara televisi dari dalam rumah.
Ada nomor telepon yang tertulis di kusen pintu rumah. CNNIndonesia.com lantas menghubungi nomor tersebut untuk menggali informasi lebih dalam.

Dia adalah Lisa (56). Saat dihubungi, dia tidak terlalu terbuka untuk memberikan informasi tentang keluarga dan tempat tinggalnya. Nada bicaranya selalu tinggi ketika disinggung hal tersebut.

Lisa hanya menjelaskan bahwa rumahnya sudah berdiri sejak berpuluh-puluh tahun silam. Rumah itu juga disebut sebagai saksi sejarah keluarga besar Lisa.
Turunan curam harus dilalui jika ingin masuk ke dalam rumah yang berlokasi di Thamrin Executive ResidenceTurunan curam harus dilalui jika ingin masuk ke dalam rumah yang berlokasi di Thamrin Executive Residence (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Dia mengatakan tidak ada orang yang berhak melarangnya tinggal di sana. Oleh karena itu, dia tetap bersikukuh mempertahankan rumah tersebut meski para tetangga lebih memilih untuk mencari tempat tinggal lain dan menerima uang kerahiman dari pemilik apartemen.

"Dari zaman turun-temurun nenek moyang. Dari nenek moyang, zaman Jepang, Belanda, pas saya belum lahir. Sampai saya penerusnya. Saya beli ini. Milik saya ini. Mutlak," kata dia.

Sehari-hari, Lisa memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil uang kontrakan yang disewakan di dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Selain itu, dia juga mengaku berjualan Soto Tangkar.

Lisa memasak. Kemudian, anak angkatnya yang menjajakan soto tangkar. Anak angkat itu juga tinggal bersama Lisa dan suami.

"Sehari-hari ini saya dagang soto tangkar sama ketupat. Cuma yang dagangin anak angkat. Saya yang masak," kata Lisa.

Tolak Tawaran Pengembang

Lisa betah dan berkeras tidak ingin menjual rumah tersebut kepada siapa pun. Keluarga Lisa dikabarkan ditawari uang Rp2,5 miliar agar meninggalkan tempat tinggalnya. Itu terjadi saat Thamrin Executive Residence akan dibangun 2012 silam.

Ketika para tetangga satu per satu pindah, Lisa punya pilihan berbeda. Dia memutuskan untuk tidak menjual rumahnya.

Lisa tidak ingin berbicara lebih jauh soal tawaran uang yang dijanjikan pemilik apartemen. Ia hanya bilang sempat ditawari satu unit rumah pengganti, uang, dan kebutuhan yang diinginkan jika rumahnya mau dijual.

"Cuma saya tidak mau. Pokoknya saya tidak mau (pindah dan menjual). Saya tetap tinggal di sini," kata Lisa dengan nada kembali meninggi.
Rumah terkepung apartemen di Thamrin Executive ResidenceRumah terkepung apartemen di Thamrin Executive Residence (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)


Ingin Bertemu Ahamdinejad


Dalam perbincangan, Lisa berulang kali menyatakan keinginan bertemu dengan seseorang Mahmud Ahmadinejad. Akan tetapi, dia tidak menjelaskan secara rinci siapa Mahmud Ahmadinejad yang dimaksud.

Diketahui, Mantan Presiden Iran (2005-2013) juga bernama Mahmud Ahmadinejad.

"Saya menunggu, mau ketemu Pak Mahmud Ahmadinejad mengurusi permasalahan tentang tempat tinggal," kata Lisa.

Lisa mengatakan hanya Ahmadinejad yang mampu mengurus masalah soal rumahnya. Namun, dia tidak mau menjelaskan lebih jauh maksud dari ucapannya itu.

"Sudah deh jangan ke situ (bahas permasalahan). Itu rahasia saya. Masak saya keluarin rahasia saya sama orang, kan tidak mungkin. Pokoknya saya mau ketemu Pak Ahmad. Kalau tidak ada Pak Ahmad, situ tidak akan bisa jelas tentang saya," ujarnya.

Lisa mengaku kenal Ahmadinejad saat masih bekerja di perusahaan bernama Ciputra. Dia mengklaim pernah menjadi kerabat dekat Ahmadinejad.
Lisa mengatakan dirinya sudah tidak bisa lagi berkomunikasi dengan Ahmadinejad setelah berhenti bekerja di Ciputra. Dia pun sudah tidak memiliki kontak untuk bisa menghubungi Ahmadinejad.

"Itu teman lama, orang pintar. Kalau ada sesuatu saya tukar pikiran berunding dengan dia. Yang ada (kontaknya) Kedutaan Iran, tapi dia (Ahmadinejad) udah tidak jadi presiden. Jadi dia (Ahmadinejad) berteman dengan Pak SBY. Kedua, sama saya," kata Lisa.

"Saya masih punya utang berat. Ya saya sudah punya janji sama dia (Ahmadinejad)," kata Lisa lagi.

Lisa lalu menyudahi pembicaraan dengan menutup sambungan telepon. Dia tak mau berlama-lama memberikan informasi tentang keluarga dan rumahnya.

Tak lama kemudian, tampak seorang pria dari dalam rumah. Ia juga tidak mau banyak bicara ketika ditanyakan soal rumah dan keinginan istrinya bertemu Ahmadinejad.

Pria itu mengaku sebagai suami Lisa. Dia lalu ingin melanjutkan kegiatannya mengambil air di daerah Tanah Abang.

Dia nampak membawa enam galon kosong dengan menggunakan sepeda motor.

"Sudah ya, saya mau ambil air dulu buat kebutuhan di rumah. Di rumah soalnya tidak ada air lagi," ucapnya.
[Gambas:Video CNN] (ryh/bmw)