Yadi Tewas Usai Ditangkap, Polisi Bantah Ada Tanda Kekerasan

CNN Indonesia | Jumat, 04/10/2019 11:59 WIB
Yadi Tewas Usai Ditangkap, Polisi Bantah Ada Tanda Kekerasan Ilustrasi demonstrasi. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi membantah informasi terdapat tanda kekerasan di tubuh korban aksi demonstrasi, Maulana Suyadi alias Yadi. Hal itu disampaikan Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Edi Purnomo.

"Tidak ada (tanda kekerasan pada tubuh korban)," kata Edi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/10).

Namun, Edi tak mengungkapkan bagaimana hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap tubuh korban. Ia hanya menyebut bahwa dari hasil pemeriksaan, korban diduga meninggal karena sesak nafas.


"Iya (karena sesak nafas)," ujarnya.


Edi juga menyebut hasil visum terhadap korban saat ini sudah diserahkan kepada pihak penyidik.

"Hasil visumnya sudah sama penyidik," ucap Edi.

Di sisi lain, Edi menyampaikan bahwa pihak surat pernyataan terkait penyebab kematian korban itu ditulis tangan sendiri oleh pihak keluarga. Kemudian, surat itu juga ditandatangani oleh ibu Yadi, Maspupah.

"Itu kan pernyataannya dia bikin sendiri kok, pernyataannya yang bikin anaknya yang perempuan, karena katanya ibunya enggak bisa nulis, sudah ditandatangani (ibunya) kok," tuturnya.


Lebih lanjut, Edi mengaku tak tahu menahu perihal pemberian amplop yang berisi uang sebesar Rp10 juta kepada pihak keluarga untuk mengurus jenazah korban.

"Saya enggak tahu (soal amplop itu)," kata Edi.

Yadi (23) meninggal bersimbah darah usai ikut demo di sekitar gedung DPR, Rabu (25/9). Sebelum berangkat berdemo, juru parkir di Tanah Abang itu meminta maaf kepada ibunya.

Maspupah (50), ibunda Yadi, menceritakan bahwa anaknya sempat memijatnya seraya terus meminta maaf dan mencium tangan sebelum ikut demo.

"Terus cium tangan, [dan mengatakan] 'maafin Yadi ya, bu', cium tangan lagi," kata Maspupah dengan nada lirih di Jakarta, dikutip dari Antara Jumat (4/10).


Keesokan harinya, Kamis (26/9) sekitar pukul 20.00 WIB, sepulang kerja Maspupah menerima kedatangan delapan orang yang mengaku polisi yang menumpang dua mobil. Mereka kemudian memperlihatkan jasad Yadi.

"Polisi ngajak makan dulu. 'Enggak ah, makasih udah kenyang'. Polisi bilang Maulana udah enggak ada, sabar ya. Saya kaget, nangis. Orang dia masih keadaan sehat [sebelum berangkat demo]," ujar Maspupah.

Ia juga sempat ke Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur untuk mengurus jasad Yadi. Saat itu, Maspupah disodorkan surat pernyataan mengenai penyebab kematian Yadi. Bahwa, anaknya meninggal dunia akibat terkena gas air mata dan penyakit asma.

"Abis itu saya dipanggil sama polisi ke kamar, ngasih amplop buat ngurus biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya enggak banyak omong, takut," tuturnya.

Saat itu, Maspupah melihat jasad Yadi mengeluarkan darah dari telinga. Saat menanyakan hal itu ke pihak RS, petugas mengklaim itu disebabkan karena penyakit asma.

Saat dimakamkan pun menurut Maspupah, jasad Yadi masih mengeluarkan darah. Tidak ada petugas kepolisian yang hadir dalam pemakaman itu.


Wanita yang bekerja menjaga lahan parkir itu mengakui putranya memang mengidap asma karena turunan dari mendiang sang ayah. Yadi, kata dia, terkadang merasakan sesak nafas saat asmanya kambuh.

Bukan Demo

Maspupah menyebut, berdasarkan keterangan teman Yadi bernama Aldo yang juga ikut ditahan saat demo, mereka berdua tidak sedang berdemo.

"Dia (Aldo) cerita bukan demo, cuma lihat," cetusnya.

Menurut Aldo, lanjut Maspupah, dirinya dan Yadi ditangkap petugas kepolisian saat berunjuk rasa di sekitar Slipi, Jakarta Barat.

"Temannya baru keluar tuh si Aldo, di dalam penjara katanya. Tangkapnya berdua sama Yadi. Saya tanya sama Aldo bagaimana kejadiannya," ujar Maspupah.


Berdasarkan penjelasan Aldo, Maspupah menuturkan saat itu Aldo dan Yadi berdemo di Flyover Slipi ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam mobil.

Di dalam mobil terdapat beberapa orang, kemudian Aldo dan Yadi tidak sadarkan diri. Maspupah sendiri tak menjelaskan penyebab keduanya tidak sadarkan diri dalam mobil. Setelah siuman Aldo sudah berada di dalam penjara, dan sempat mendekam selama tiga hari. Sementara, keberadaan Yadi tidak diketahui.

Ibu korban menyatakan tidak terima jika Yadi memang benar dipukuli hingga meninggal dunia karena dituduh ikut demo yang berujung ricuh.

"Dunia akhirat saya tidak terima. Tapi kalau anak saya meninggal karena dari Allah, saya ikhlas," cetus Maspupah.

[Gambas:Video CNN] (dis/DAL)