Polisi Persilakan Sekjen PA 212 Ajukan Penangguhan Penahanan

CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 05:05 WIB
Polisi Persilakan Sekjen PA 212 Ajukan Penangguhan Penahanan Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono (tengah) mengatakan penangguhan adalah hak tersangka. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi mempersilakan Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar mengajukan penangguhan penahanan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono mengatakan penangguhan adalah hak tersangka.

"Namanya penangguhan itu hak dari pada tersangka, keluarga tersangka ya itu silakan saja mengajukan penangguhan penahanan," kata Argo di Polda Metro Jaya, Kamis (10/10).


Bernard merupakan tersangka kasus penganiayaan dan penculikan Ninoy Karundeng. Ia duga terlibat melakukan penganiayaan dan penculikan kepada pegiat media sosial Ninoy Karundeng.


Sebelumnya, anggota tim hukum Front Pembela Islam (FPI) Azis Yanuar mengatakan penangguhan penahanan telah diajukan Rabu (9/10). Penangguhan diajukan karena alasan kesehatan Bernard.

Azis mengatakan kondisi Bernard bahkan agak pincang dan agak sulit untuk berbicara.

"Memang sedang perawatan dan kami sangat khawatir kalau misalnya penahanan ini dilanjutkan, karena takutnya semakin memburuk," tutur Azis.


"(Penyakitnya) stroke dan diabetes dan kita khawatir terjadi hal-hal yang buruklah seperti itu," lanjut dia.

Ninoy sempat dianiaya sejumlah orang di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, saat demo 30 September. Ia melaporkan kejadian tersebut kepada Polda Metro Jaya setelah diizinkan pulang oleh pelaku penganiayaan.

Menurut kesaksian seorang relawan Jokowi, Jack Boyd Lapian, penganiayaan terhadap Ninoy dilakukan di Masjid Al-Falah. Ninoy diinterogasi, dipukuli, dan diancam akan dibunuh di dalam masjid tersebut oleh sejumlah oknum.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan 13 orang tersangka, termasuk Sekretaris Jenderal PA 212 Bernard Abdul Jabar. Dari 13 tersangka itu, 12 di antaranya saat ini menjalani masa penahanan.

Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 170 KUHP dan Pasal 335 KUHP, tiga di antaranya dijerat UU ITE karena diduga terlibat dalam merekam dan menyebarkan aksi penganiayaan.


[Gambas:Video CNN] (ctr/pmg)