"Wajar, lah. Makin tinggi pohon, makin banyak angin," ujar Rizal melalui keterangannya, Jakarta, Senin (2/12).
Meski begitu, Rizal berkeyakinan Munas akan berakhir damai dan demokratis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kritik seperti itu dicari-cari. Plt itu bukan orang, tapi lembaga. Sejauh prosedur penetapannya sah, ya tidak ada masalah. Hak suaranya tidak berbeda dengan ketua definitif."
Mengenai masa jabatan Plt yang berkepanjangan, Rizal berkata bahwa hal itu harus dilihat pada konteksnya. Yang penting semua keputusan tersebut bukan sesuatu yang subjektif atau ide orang per orang. Ia adalah keputusan organisasi yang bersifat kolektif kolegial.
"Saya ditunjuk menjadi Plt Ketua DKI saat kampanye pemilu akan dimulai. Konsentrasi kita ke sana, bukan kompetisi internal. Setelah pemilu, kami rapat pleno, dan diputuskan bahwa Musda DKI akan diadakan pada 2020. Jadi urutannya bagus, Munas dulu dan setelah itu Musda."
Lebih lanjut, Rizal Mallarangeng mengajak seluruh kader Golkar menyambut Munas nanti dalam suasana kegembiraan dan persahabatan.
"Kompetisi adalah hal yang biasa. Malah bagus. Tapi ia harus menjadi proses yang membesarkan partai, bukan memecah-belah. Golkar partai besar, kita harus membuatnya lebih besar lagi, bersama-sama," ujar Rizal.