SBY Dengar Info Ada yang Hendak Dijatuhkan di Kasus Jiwasraya

CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 17:26 WIB
SBY Dengar Info Ada yang Hendak Dijatuhkan di Kasus Jiwasraya Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku mendapatkan informasi tentang kasus Jiwasraya. Melalui akun Facebooknya, SBY mengatakan, ada pihak yang dibidik dan hendak dijatuhkan melalui kasus Jiwasraya.

Tulisan SBY di Facebook itu berjudul "Penyelesaian Kasus Jiwasraya Akan Selamatkan Negara dari Krisis yang Lebih Besar,". Tulisan itu diunggah, Senin (27/1) sore.

SBY mengatakan, awal Januari 2020, isu Jiwasraya makin ramai dibicarakan. Ditambah dengan isu Asabri. Bisik-bisik, sejumlah lembaga asuransi dan BUMN lain, konon juga memiliki permasalahan keuangan yang serius.


Kata SBY, di kalangan DPR RI mulai dibicarakan desakan untuk membentuk Pansus. Tujuannya agar kasus besar Jiwasraya bisa diselidiki dan diselesaikan secara tuntas.

Bahkan, kata SBY, menurut sejumlah anggota DPR RI dari Partai Demokrat, yang menggebu-gebu untuk membentuk Pansus juga berasal dari kalangan partai-partai koalisi. Namun, belakangan diketahui koalisi pendukung pemerintah lebih memilih Panja, bukan Pansus.

"Ketika saya gali lebih lanjut mengapa ada pihak yang semula ingin ada Pansus, saya lebih terperanjat lagi. Alasannya sungguh membuat saya "geleng kepala"," kata SBY.
Menurut SBY, alasan dibalik ngototnya pembentukan Pansus, katanya untuk menjatuhkan sejumlah tokoh.

"Ada yang "dibidik dan harus jatuh" dalam kasus Jiwasraya ini. Menteri BUMN yang lama, Rini Sumarno harus kena. Menteri yang sekarang Erick Thohir harus diganti. Menteri Keuangan Sri Mulyani harus bertanggung jawab. Presiden Jokowi juga harus dikaitkan," kata SBY.

SBY menambahkan, mendengar berita seperti itu, meskipun belum tentu benar dan akurat, diapun bersikap.

"Sikap saya adalah tak baik dan salah kalau belum-belum sudah main "target-targetan," katanya

SBY mengatakan, sewaktu dia mendengar ada kasus keuangan yang menimpa PT. Asuransi Jiwasraya, dia memilih tak berkomentar apapun. Sebab, menurutnya, bisa saja sebuah korporat, termasuk Jiwasraya, mengalami masalah demikian. Pasang surut keadaan keuangan perusahaan, sehat-tidak sehat, boleh dikata lumrah.

Namun, ketika dalam perkembangannya angka kerugiannya mencapai 13 triliun rupiah lebih, SBY mulai tertarik untuk mengikutinya. "Ini cukup serius," katanya.

Pun ketika Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan bahwa permasalahan Jiwasraya sudah terjadi sejak 10 tahun lalu, SBY mengaku merasa tak merasa terusik.

"Kementerian BUMN juga secara eksplisit mengatakan bahwa masalah Jiwasraya bermula di tahun 2006, saya juga tak merasa terganggu. Apalagi, di tahun 2006 dulu saya tak pernah dilapori bahwa terjadi krisis keuangan yang serius di PT. Jiwasraya," katanya.
Tapi, kata SBY, ketika mulai dibangun opini, dan makin kencang, bahwa seolah tidak ada kesalahan pada masa pemerintahan sekarang ini, dan yang salah adalah pemerintahan SBY, dia mulai bertanya.

"Apa yang terjadi? Kenapa isunya dibelokkan? Kenapa dengan cepat dan mudah menyalahkan pemerintahan saya lagi? Padahal, saya tahu bahwa krisis besar, atau jebolnya keuangan Jiwasraya ini terjadi tiga tahun terakhir," katanya.

Karena itulah, SBY sempat mengatakan kalau memang tak satupun di negeri ini yang merasa bersalah dan tak ada pula yang mau bertanggung jawab, ya salahkan saja masa lampau.

Saat ini, kata SBY, krisis keuangan Jiwasraya telah menjadi pembicaraan dan perhatian rakyat Indonesia. Kegaduhan politik terjadi. Termasuk di kalangan parlemen, wakil rakyat.

[Gambas:Video CNN]


Rumor dan desas desus mulai berkembang. Menyasar ke sana ke mari. Fakta dan opini bercampur aduk. Terkadang tak mudah membedakan mana berita yang benar, dan mana yang hoaks dan fitnah.

"Seperti biasanya, saya tak mau ikut-ikutan berkata sembarangan. Main tuduh dan memvonis seseorang atau pihak-pihak tertentu sebagai bersalah bukanlah karakter saya," katanya, "Di samping itu, saya juga percaya bahwa pada saatnya kebenaran dan keadilan akan datang. Datangnya mungkin lambat, tapi pasti," katanya.

SBY hanya berharap agar kasus Jiwasraya tak dipolitisasi. "Sejumlah kalangan mengatakan janganlah kasus Jiwasraya dan Asabri ini terlalu dipolitisasi. Saya sangat setuju. Meskipun, bagaimanapun tak mungkin hal begini akan terbebas sama sekali dari perbincangan politik," katanya.
(ugo/ugo)