Polda Papua Bantah Rintangi Penyelidikan Paniai Berdarah

CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 10:50 WIB
Polda Papua Bantah Rintangi Penyelidikan Paniai Berdarah Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw menyatakan sudah transparan dan terbuka dalam proses penyelidikan peristiwa penembakan warga sipil di Paniai yang dikategorikan kasus pelanggaran HAM berat oleh Komnas HAM.

"Malahan saya, mantan Kapolda Pak Yotje juga sudah diundang untuk dimintai keterangan di Komnas HAM. Kami transparan, kok," kata Paulus kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi, Rabu (19/2).

Pernyataan itu disampaikan Paulus merespons Komnas HAM yang menyebut TNI dan Polri melakukan penghalangan terhadap proses penyelidikan (obstruction of justice) dalam kasus penembakan Paniai.


Komisioner Komnas HAM Munafrizal Manan mengatakan perintangan dimulai saat Polda Papua menghentikan penyelidikan. Penanganan kasus pun tersendat.

Di sisi lain, Paulus menyatakan proses hukum terhadap oknum-oknum yang diduga melakukan pelanggaran HAM dalam peristiwa Paniai terus berjalan. Para terduga pelaku diperiksa oleh masing-masing instansi terkait.

Kendati demikian, Paulus tak membeberkan secara rinci proses pemberian sanksi dan penyelidikan internal polisi dalam menangani peristiwa tersebut.

"Tidak hanya Paniai, kasus Biak, kasus Wamena, itu termasuk yang terakhir di 2014 itu kasus Paniai. Semua itu sudah dalam proses," kata Paulus.

"Tugasnya Komnas lah melanjutkan proses (penyelidikan) itu. namanya dugaan pelanggaran HAM itu mereka," tambah dia.

Komnas HAM sendiri telah mengirimkan berkas penyelidikan terhadap peristiwa Paniai ke Kejaksaan Agung. Selanjutnya, berkas akan diteliti sebelum dilanjutkan ke tahap penyidikan.

Paniai Berdarah ialah insiden yang terjadi pada 8 Desember 2014 saat warga sipil melakukan aksi protes di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, Paniai.

Warga saat itu berkumpul untuk memprotes pengeroyokan oleh aparat TNI terhadap pemuda yang sedang melakukan pengamanan jelang Natal.

Empat pelajar tewas di tempat usai ditembak pasukan gabungan militer, sedangkan satu orang lagi tewas setelah menjalani perawatan di rumah sakit beberapa bulan. Sementara 17 orang lainnya luka-luka akibat peristiwa itu.

KontraS mencatat lima orang yang tewas bernama Otianus Gobai (18 tahun), Simon Degei (18 tahun), Yulian Yeimo (17 tahun), Abia Gobay (17 tahun), dan Alfius Youw (17 tahun).

[Gambas:Video CNN]
Kejaksaan Agung dalam waktu dekat akan mengumumkan hasil penelitian terhadap berkas penyelidikan Komnas HAM di kasus Paniai. 

Penelitian berkas berkutat pada pada syarat formil ataupun materiil dalam penyelidikan. Hasil penelitian bakal menentukan penegakan hukum selanjutnya dalam kasus Paniai Berdarah.

"Nanti akan dijawab oleh Direktorat HAM Berat. Kalau gak besok, dalam dua atau tiga hari," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, Hari Setiyono kepada wartawan, Selasa (18/2). (mjo/wis)