Keluhan Warga Ketika Banjir Melanda

CNN Indonesia | Selasa, 25/02/2020 22:30 WIB
Keluhan Warga Ketika Banjir Melanda Ilustrasi. Warga melontarkan berbagai keluhan akibat banjir Jakarta. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga DKI Jakarta kembali dilanda banjir, Selasa (25/2). Banjir melanda beberapa titik setelah hujan mengguyur kawasan ini sejak Senin (24/1) malam.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, banjir kali ini merendam 200 RW dari total 2738 RW yang ada di Jakarta. Berarti wilayah yang terendam sekitar 10 persen dari total RW di DKI Jakarta.

Warga pun melontarkan beragam keluhan terkait banjir kali ini. Sebagian warga menyebut banjir baru kali ini melanda rumahnya. Padahal pada banjir Jakarta yang melanda di tahun baru lalu, ia mengaku tak kebanjiran.

Hal ini diungkap Khodirin, warga di kawasan Sunter. Penjual mie ayam ini mengaku, daerah Sunter biasanya bukan salah satu kompleks rumah yang mudah terendam banjir. 



"Nah sekarang enggak tahu ya. Padahal kan harusnya udah diberesin kalau gini, eh malah makin parah," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (25/2).

Sementara itu, warga lain mengaku banjir kali ini tidak separah banjir saat tahun baru. Hal ini diungkap warga Kramat Jati, Syahromin. Ini adalah kali kedua rumahnya terendam banjir setelah tahun baru lalu.

Namun menurutnya ketinggian banjir saat ini tidak lebih besar daripada apa yang terjadi pada awal tahun.

"Tahun baru lebih tinggi," ungkapnya.

Hal yang sama diungkap Ketua RT 01 RW 04, Kelurahan Manggarai, Ramlan.

"Di RT sini 130-an rumah yang terendam banjir. Ini cukup tinggi, yang bagian depan itu paling 0,5 meter. Yang bagian belakang dekat sungai, itu sampai 2,5 meter. Kayak tahun baru kemarin," kata dia.

Ramlan menuturkan ketinggian air sudah mulai naik sejak pukul 01.00 WIB. Warga pun mulai mengevakuasi barang-barang ke tempat yang aman.

Khawatir banjir bikin tak tidur

Banjir menggenangi wilayah perumahan Pondok Pekayon Indah, Bekasi Selatan, Jawa Barat, Selasa, 25 Februari 2020 (CNN Indonesia/Safir Makki)
Warga Bekasi, Taufik, juga mengaku tidak tidur sejak malam ketika hujan deras turun sejak Senin malam. Sebab, sebelumnya ia sempat terdampak banjir pada 1 Januari lalu.

Warga Komplek Huma Akasia, Jatiwarna itu mengaku sejak pukul 01.00 WIB ia sudah mengangkat barang-barang. Sebab, pada dini hari jalan depan rumahnya mulai terendam sebetis orang dewasa.

"Kemarin 1 Januari sudah pernah. Jadi sekarang lebih waspada. Enggak tidur dari malam," tuturnya.

Hal serupa diakui Fadlani (70), warga wilayah RW 03, Kelurahan Tegal Parang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Ia mengaku harus selalu waspada jika hujan turun. Walaupun hanya gerimis, ia tetap terjaga sepanjang malam untuk antisipasi banjir.

"Gerimis aja dikit di sini bisa banjir," ujarnya sambil memunguti sampah yang tergenang di rumahnya.

Saat ini, banjir setinggi 80 sentimeter menggenangi rumahnya. Jika masuk lebih jauh ke wilayah Gang Hj. Husin, ketinggian banjir bisa mencapai satu meter. Lelaki paruh baya ini pun mengaku seringkali menemukan sampah-sampah rumah tangga yang terbawa arus banjir.

Dimintai data, nihil bantuan

Sementara itu, sebagian warga lain mengungkap mereka tak menerima bantuan Pemprov DKI saat wilayahnya kebanjiran. Padahal mereka sebelumnya sudah dimintai data oleh ketua RW setempat. Menurut Eni Puspitasari (35), warga Tegal Parang, warga terdampak banjir dimintai fotokopi KTP dan Kartu Keluarga untuk pendataan.

"Cuman data doang, bantuan ga ada," kata Eni.

Hal serupa diungkap Aisyah (65), warga RW 03 Gang Hj. Husin, Tegal Parang. Ia mengaku tidak pernah mendapat bantuan, padahal sudah beberapa kali dimintai KTP dan Kartu Keluarga untuk data bantuan banjir.

"Sering kalau banjir diminta KTP dan KK, katanya buat bantuan korban banjir, dikasih sembako dari pemerintah tapi belum pernah sampai sekarang," katanya.

Tanggul Baswedan
Tanggul Baswedan sempat ikut meluap akibat hujan yang guyur Jakarta sejak Senin (24/2) malam. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)

Warga lainnya, Zaini (59), menyaksikan langsung air naik sejak dini hari. Zaini tinggal persis di depan Tanggul Baswedan bersama anak istrinya.

Dia bilang saat waktu Subuh, air mulai menggenang di jalan raya. Tak lama kemudian, air mulai melimpas dari sisi-sisi tanggul.

Meski sudah dibangun tanggul, namun debit air berlebih tak sanggup ditampung. Sehingga, air masih tetap meluber dari tanggul dan mengalir ke rumah warga.

"Tanggul mah aman. Cuma dari kali-kali yang kecil, mungkin penuh, masuk lah ke sini," ucap Zaini saat ditemui CNNIndonesia.com di depan rumahnya.

Campur sampah

Sementara itu, warga di sekitar ruas jalan Jalan Raden Patah, kawasan Sudimara, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang mengeluhkan bau sampah yang bercampur banjir.
Banjir merendam jalanan di kawasan ini hingga ketinggian 30-60 sentimeter.

Pantauan CNNIndonesia.com, banjir mengakibatkan arus lalu lintas tersendat. Banjir yang bercampur sampah warga itu juga menimbulkan bau busuk di jalan.

Menurut salah satu warga, Heri (36) mengatakan, sampah yang berada di bahu jalan itu memang sudah biasa dibuang oleh warga. Biasanya, sampah-sampah itu diangkut oleh petugas kebersihan. Namun, hujan kata Heri mengakibatkan sampah tak kunjung diangkut.

"Mungkin karena terbentrok dengan adanya banjir gini, dinas mungkin ga bisa," kata Heri.

Tak bisa dagang

Banjir juga membuat Aisyah (65) tidak bisa berjualan nasi uduk. Ia juga masih menunggu bantuan yang katanya akan dibagikan kepada warga yang terkena banjir.

"Udah enggak bisa jualan, katanya ada bantuan tapi enggak datang," kata Aisyah.

Aisyah berharap, pemerintah tidak hanya mengatasi banjir dengan memberikan bantuan sembako. Ia lebih menginginkan pemerintah tanggap menangani banjir. 

"Saya sih pinginnya enggak banjir lagi, bukannya bantuan sembako," ujarnya. 

Sementara itu, Fadli mengaku tetap berjualan mie ayam meski harus sambil terendam banjir. Para pelanggannya pun membeli sambil naik ke atas kursi atau makan sambil menaikkan kaki ke kursi untuk menghindari genangan. (Tim/eks)